Tingkatkan Kepekaan!

Tingkatkan Kepekaan

Bismillah… Saya mencoba menasehati seorang sahabat baik saya melalui keteladanan, yakni dengan memberikannya contoh. Saya sengaja menyampaikan nasehat-nasehat melalui keteladanan di dasari dua pertimbangan yaitu kalimat bijak bahwa “satu keteladanan itu lebih baik daripada seribu nasehat” dan kekhawatiran pada lidah yang mudah melukai yang akan merusak hubungan persahabatan.

Namun, berulang kali saya coba contohkan, nasehat ini seperti tidak tersampaikan, contoh kasus terjadi pada sandal. Setiap kali pulang dari masjid, sahabatku ini meletakkan sandalnya sembarang, maka setiap kali itu pula saya merapikannya sembari berharap ia memahami mengapa saya melakukan ini berulang-ulang bahwa dengan merapikan sandal selain nyaman di pandang juga akan menghemat waktu sekian detik ketika akan menggunakannya kembali. Namun itu semua belum tersampaikan dan dipahami olehnya.

Saya mencoba merenungi apa yang salah dengan upaya menasehati melalui keteladanan ini, lama ku merenungi dan akhirnya mendapat satu kesimpulan tentang faktor penyebab tidak tersampaikannya nasehat ini yaitu kurangnya kepekaan. Hal ini sama seperti ketika saya kecil dulu yang sering di marahi oleh Bapak karena asyik bermain bola di lapangan sekolah dan selalu pulang menjelang magrib. Saat itu kepekaan saya masih sangat kurang, tidak peka bahwa orang tua khawatir nanti saya tidak sempat mandi sore, kotor-kotoran yang akan berakibat pada kesehatan saya dan kalau jatuh sakit akan membebani orang tua; biaya berobat, kemungkinan sembuh, waktu produktif yang tersita, dll.

Pun pada kasus tindakan-tindakan yang bersifat kurang baik, merusak dan merugikan orang lain, semua dikarenakan kurangnya kepekaan. Sebagai contoh pada kasus buang sampah sembarang. Andai yang membuang sampah ini peka bahwa membuang sampah sembarangan itu memiliki dampak yang fatal yang tidak hanya akan menimpa orang lain tetapi juga dirinya sendiri karena sampah-sampah yang ia buang sembarang akan menjadi sarang nyamuk-nyamuk dan kuman-kuman yang akan mengancam kesehatan dan kehidupan manusia termasuk dirinya. Andai yang membuang sampah sembarangan di jalan-jalan peka bahwa sampah yang dibuangnya akan merepotkan dan membebani orang lain, para penyapu jalan yang beban hidupnya sudah berat harus menaruhkan nyawanya di tengah hiruk pikuk mobil-mobil beralu lalang di jalan.

Lalu dalam pergaulan sosial, seperti tindakan-tindakan sebagian orang yang dengan mudahnya menertawakan dan mengejek orang lain yang gagal dalam usahanya, yang menerima musibah atau yang tidak sengaja melakukan suatu tindakan memalukan. Andai orang-orang itu peka bahwa tertawaan dan ejekan mereka akan menyakiti hati mereka yang ditertawai. Andai orang-orang itu peka bahwa tertawaan dan ejekan mereka itu seperti ucapannya Rasulullah saw pada Aisyah ra yang mengejek fisik Shafiyah ra bahwa Shafiyah ra itu pendek, “wahai Aisyah, engkau telah mengatakan perkataan yang seandainya dicampur dengan air laut, maka kalimat itu akan mengubah dan mencemari air laut itu.” (sangat fatal).

Oleh karena itu, penting untuk masing-masing kita meningkatkan kepekaan ini agar muncul kepedulian dan akhirnya akan terjaga keharmonian. Setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan kepekaan, di antaranya;

  1. Membiasakan Otokritik
    Sebuah kisah di masa Rasulullah saw. ini bisa menjadi gambaran bagaimana cara untuk membiasakan otokritik pada diri sendiri.Seorang pemuda datang kepada Rasulullah, lalu berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku berzina.”

    Para sahabat yang berada di dekat Rasulullah kaget, tapi Rasulullah menyuruh pemuda tersebut untuk mendekat. Lalu Rasulullah saw bertanya ”Sukakah engkau jika yang dizinai itu adalah ibumu.”

    ‘Tidak ya Rasulullah, demi Allah lebih baik aku menjadi tebusannya,” jawab pemuda itu.

    ”Kalau begitu, orang lain juga pasti tidak suka ibunya diperlakukan seperti itu,” jawab Rasulullah.

    Lalu Rasulullah saw bertanya kembali, ”Bagaimana jika yang dizinai itu anakmu, sukakah engkau?”

    ”Tidak, demi Allah lebih baik aku menjadi tebusannya,” jawab pemuda tersebut.

    Rasulullah pun menjawab kembali, ”Kalau begitu, orang lain pun tidak akan senang anak perempuannya dizinai.”

    Beberapa pertanyaan yang Rasulullah saw tanyakan pada pemuda tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah pemuda tersebut rela jika yang dizinai itu adalah ibu, saudari atau anak perempuannya. Dan setiap kali pertanyaan itu didengarnya, tak ada yang bisa dilakukan sang pemuda kecuali menyerah di hadapan kejujuran nuraninya. Untuk setiap pertanyaan itu ia memberikan jawaban, ”Tidak, lebih baik aku menjadi tebusannya ya Rasulullah.”

    Apa pengajaran yang terkandung dalam percakapan singkat Rasulullah saw dengan pemuda tersebut?

    Secara tersirat, inti dari kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di atas adalah tentang pengajaran otokritik bagi setiap kita. Beliau mengajarkan bagaimana membiasakan otokritik yaitu dengan berempati. Empati yang dimaksud adalah berbaurnya hati dan pikiran dengan apa yang dirasakan oleh orang lain yang dengan empati tersebut, seorang akan selalu berusaha memahami sebelum dipahami orang lain. Pada setiap tindakan selalu memposisikan diri seandainya kita yang menjadi objek atau yang dikenai dari tindakan tersebut, apa yang akan kita rasakan, baikkah, sopankah, benarkah, sakit tidak, dll?

    Maka langkah pertama dalam meningkatkan kepekaan yaitu dengan membiasakan otokritik, posisikan diri sebagai objek lalu pahami, layakkah saya menerima tindakan ini?

  2. Tingkatkan Ilmu dan Pemahaman
    Ilmu yang dimaksud disini tidak terbatas pada ilmu bidang tertentu, tetapi ilmu yang bersifat umum, luas dan tidak terbatas karena jika ilmu hanya terbatas pada bidang spesialis masing-masing, kepekaan yang hadir masih belum mampu menumbuhkan kepedulian. Dan meningkatkan pemahaman dengan cara selalu menanyakan pada ilmu-ilmu yang baru di dapat atau menemukan ilmu baru dengan pertanyaan mengapa. Mengapa ini bisa terjadi, mengapa ini di perbolehkan dan ini tidak boleh, mengapa dan mengapa?Sebagaimana kesadaran saya tentang bahaya membuang sampah di laut, kepekaan saya akan hal ini baru muncul ketika menonton ceramah Shaykh Hamza Yusuf yang memaparkan tentang rangkaian dampak sampah dan limbah yang di buang ke laut. Saya dulu beranggapan bahwa terumbu karang rusak itu tidak ada kaitannya dengan kehidupan manusia, tidak berdampak pada kehidupan manusia, lalu mengapa kok banyak orang yang mengkhawatirkan rusaknya terumbu karang tersebut lalu mengkampanyekan untuk menyelamatkannya. Tapi setelah saya menyaksikan pemaparan Shaykh Hamza Yusuf dalam video ini (menit ke 20), saya pun sadar dan kepekaan itu pun muncul.

    Dari video di atas, dijelaskan bahwa di dalam kehidupan laut terdapat rangkaian rantai makanan yaitu suatu peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan-urutan tertentu. Dalam rantai makanan terdapat makhluk hidup yang berperan sebagai produsen, konsumen, dan sebagai dekomposer (pengurai). Ketika salah satu makhluk hidup punah akibat kerusakan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, maka makhluk hidup lainnya pun berangsur-angsur akan punah dan dampak langsung pada manusia dari kepunahan tersebut adalah semakin sulitnya memenuhi kebutuhan ekonomi bagi para nelayan. Tidak bisa membayangkan nasib-nasib para nelayan yang notabene-nya merupakan profesi dengan tingkat penghasilan terendah jika ikan-ikan buruan mereka mengalami kepunahan.

    Sejak saat itu saya menjadi tahu mengapa terumbu karang dan kelestarian kehidupan laut perlu dijaga, sejak saat itu juga saya menjadi peduli dan menjadi peka untuk tidak membuang sampah ke laut.

Melalui dua langkah ini, insya Allah kepekaan itu akan muncul. Dengan hadirnya kepekaan yang tinggi, kepedulian akan tumbuh dan keharmonian akan senantiasa terjaga.

wallahu’alam bi shawab.
semoga bermanfaat, salam peradaban.
18 mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s