Bekal Pulang Kurang, Ada Apa?

Kebaikan itu pahalanya Allah lipat-lipatkan sedangkan keburukan nilainya tidak ada kelipatan. Kebaikan itu tidak bisa di bendung aliran jariyahnya, sedangkan keburukan bisa di stop dengan taubat. Lalu mengapa masih ada yang di yaumil akhir nanti yang timbangan keburukannya lebih berat dari timbangan kebaikannya?

Bekal Pulang Kurang, Ada Apa

Bismillahirahmanirrahim, ba’da tahmid wa shalawat.
Sebuah muhasabah pada diri sendiri dan pada kita semua. Mencoba merenungi tentang sistem hitung-hitungan bekal untuk pulang ke kampung akhirat.

Berlandaskan pada hadits Rasulullah Muhammad saw. Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai SATU KESALAHAN.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka]

Dari hadits tersebut jika di ringkas, menjadi seperti ini

  1. Berniat kebaikan walaupun tidak dilaksanakan maka nilainya 1 pahala.
  2. Berniat kebaikan lalu mengerjakannya, maka nilainya 10-700x pahala.
  3. Berniat keburukan tapi tidak dilaksanakan maka akan di nilai 1 pahala.
  4. Berniat keburukan kemudian mengerjakan, maka akan di nilai sebagai 1 dosa.

Coba bandingkan, secara sederhana, 702 pahala dan 1 dosa. Mana yang lebih banyak?

Dan tahukah kita bahwa pahala kebaikan bisa berlipat-lipat nilainya dan tidak bisa dihentikan alirannya sedangkan dosa keburukan bisa di hentikan dan bahkan dihapus?

“Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maidah [5] ayat 39)

Maka kita dapat melihat, bagaimana Allah swt memberi peluang yang sangat besar bagi makhluknya untuk meraih kebaikan di kampung akhirat nanti, tapi mengapa masih banyak yang justru memilih jalan keburukan yang akan menempatkannya pada seburuk-buruk tempat ketika pulang ke kampung akhirat kelak?

Tidak bersegera dalam membersihkan diri (taubat) salah satu sebabnya. Kecenderungan manusia yang memang tempatnya salah dan lupa terkadang lalai dalam upaya membersihkan diri menyebabkan berkurangnya kepekaan iman, sehingga menganggap remeh dosa-dosa yang dilakukan dan akhirnya menjadi lupa dan terlupakan.

Diri manusia ibarat sebuah kaca, ketika melakukan satu kesalahan kecil, maka menempellah satu noda di kaca tersebut. Karena keengganan untuk membersihkannya (taubat), lama kelamaan noda bertambah dan bertambah, dan akhirnya menutupi semua ruang kaca, sehingga cahaya yang datang tidak lagi mampu memantulkan cahayanya.

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” (HR. Bukhari no. 6308)

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kalian mengerjakan dosa di hadapan mata kalian, tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar yang membinasakan.” (HR. Bukhari no. 6492.)

Bilal bin Sa’ad (salah seorang pembesar tabi’in) rahimahullaahu ta’ala berkata,
“Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, akan tetapi lihatlah besarnya Dzat yang kau durhakai.”

Untuk itu mari kita perbanyak niat dan beramal kebaikan dan bersegera dalam membersihkan diri (bertaubat) agar bekal pulang kampung akhirat tetap surplus sehingga mendapat tempat terbaik di jannah-Nya. Aamiin ya Rabbal alamin

Wallahu A’lam Bishawab.
Semoga Bermanfaat, Salam Peradaban!
Dalam penantian Turkish Scholarship Announcement, 11.05.2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s