Ilmu dan Peradaban

Bagaimana ilmu pengetahuan membentuk sebuah peradaban?

Ada hal unik dalam perjalanan panjang mencari ilmu yang telah ku tempuh selama ini. Terlahir dan sempat mencicipi pendidikan tingkat dasar di pedesaan, desa yang jauh dari kategori modern dan maju, bangunan pendidikan yang kurang memadai tapi jika dibandingkan dengan sekolahnya “laskar pelangi” masih lebih baik. Sarana dan prasarana pendidikan serta fasilitas publik seperti WC umum, Puskesmas, pengadaan sumber air bersih dan transportasi umum masih sangat terbatas. Saya ingat ketika saya sakit, saat itu masih duduk di sekolah dasar kelas 5, saya diantar berobat oleh ibu dan bapak ke desa tetangga, Desa Peninggiran, karena puskesmas terdekat ada didesa ini. Saat itu kami harus berjalan kaki menuju ke desa tetangga ini, sekitar 1km lebih jaraknya. Pun untuk sekolah menengah pertama adanya di desa ini juga maka tak heran jika melihat banyak pelajar dari desaku yang berjalan kaki pagi dan siang harinya menuju desa tetangga ini. Namun ketika itu, saya, ibu dan bapak yang berangkat mengantarkanku berobat disaat jam pelajaran seharusnya masih berlangsung yakni pukul 9 pagi, melihat beberapa siswa yang tidak masuk kelas dan dengan asyiknya berjalan ke kebun-kebun warga. Menyaksikan hal tersebut menambah keyakinan kedua orang tuaku ini untuk menyekolahkanku di kota, menanggapi tawaran dari pamanku yang sebelumnya meminta aku di sekolahkan di kota.SMPN 55 Palembang

Singkat cerita, niatan itu pun direalisasikan dan akhirnya aku pun memulai perantauan pencarian ilmu dari usia yang masih sangat belia. Ingatanku tentang hari-hari saat berpisah dengan keluarga masih sangat lekat, cukup lama bagiku saat itu untuk beradaptasi, merenungi makna sebuah perpisahan yang memaksaku untuk dewasa lebih cepat dari yang seharusnya. Oleh pamanku, Saya di sekolahkan di SMPN 55 Palembang dengan status siswa pindahan. SMPN 55 ini bukanlah sekolah yang ideal karena saat itu ia masih berumur jagung, saya adalah angkatan kedua dari sekolah ini. Ya, sekolah ini baru berdiri dua tahun saat saya resmi menjadi siswa di sekolah ini. Bangunan yang masih perawan, tanah timbunan yang masih mengembang dan tanah galian yang masih kemerahan. Kanan-kiri masih hijau semak-semak, diselingi jalan perlintasan pangkalan Talang Buruk menuju komplek perumahan warga. Dan ternyata tidak jauh berbeda dengan nasib pelajar di desaku yang belajar ke desa tetangga, saya pun harus berjalan kaki untuk menuju ke sekolah ini dan sesekali di antar paman dengan pespa tuanya. Pada periode ini saya menyaksikan tempat mencari ilmu ini ditempatkan di wilayah yang sama sekali baru, bukan di pertengahan pemukiman warga atau pusat peradaban. Namun setelah sepuluh tahun lulus dari sekolah ini dan menyaksikan kembali kondisi sekolahku ini, mulai tampak berdiri banyak bangunan-bangunan, termasuk masjid di belakang sekolah yang berada tepat di samping kantor lurah, lalu dibukanya lahan-lahan baru untuk perumahan warga yang secara perlahan membentuk peradabannya sendiri.

SMAN 13 Palembang

Pada tingkatan selanjutnya, saya bersyukur bisa lulus di salah satu sekolah negeri favorit di kota palembang, SMAN 13 Palembang, bersaing dengan berbagai siswa dari SMP se-kota palembang, saat itu saya sempat pesimis karena sekolah asalku yang masih tergolong baru bersaing dengan siswa-siswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang sudah mapan. Perasaan pesimis itu tampak dari kesungguh-sungguhan saya mengikuti tes di SMA Muhammadiyah 1 palembang. Tapi alhamdulillah, saat akan dilakukan pembayaran di SMA Muhammadiyah 1 itu, saya dinyatakan lulus di SMAN13. Rasa syukur yang teramat sangat karena membayangkan nasib kedua orang tua jika seandainya harus sekolah di sekolah swasta. Di SMAN 13 saya mendapati sekolah yang sudah tergolong mapan, meski kondisi lokasi yang sama seperti ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, hanya saja kondisi ini bukan karena sekolah baru berdiri bukan, tapi karena sekolah ini berada di komplek Angkatan Udara Lanud Palembang, sehingga lahan-lahannya tetap dijaga dan tidak boleh dibuka untuk perumahan warga. Pada periode ini saya tidak menyaksikan secara langsung bagaimana pengembangan ilmu pengetahuan di lokasi ini membentuk peradaban.

universitas sriwijaya

Hal serupa terjadi ketika proses masuk ke perguruan tinggi, bersaing dengan siswa se-sumsel dan bahkan se-Indonesia untuk mendapatkan satu kursi di Universitas negeri satu-satunya di Sumsel ini pada saat itu, Universitas Sriwijaya. Aktif mengikuti kursus di bimbel Nurul Fikri Sudirman Palembang sebagai bagian dari usaha untuk mendapatkan satu kursi di perguruan tinggi negeri ini. Mendaftar dan memilih jurusan dengan grade tertinggi untuk jurusan sosial pada pilihan pertama yaitu akuntansi dan grade tertinggi kedua, manajemen, pada pilihan keduanya. Bagian dari rasa pesimisku saat itu juga dengan menyiapkan diri mendaftar di IAIN Raden Fatah Palembang dengan memilih jurusan ekonomi islam. Serupa dengan kejadian ketika ujian masuk ke SMA, pada hari batas pembayaran uang muka di IAIN, saat itu juga pengumuman hasil SNMPTN di umumkan. Saya ingat sujud-sujud syukurku saat itu ketika jelas tercetak di koran sumeks nama Febri Fransiska lulus di pilihan pertama Akuntansi Unsri, Allahu Akbar teriakku yang saat itu baru selesai sholat subuh lalu menyambangi tukang koran di bawah Fly over Polda.  Pada periode ini, saya menyaksikan universitas yang di klaim sebagai universitas dengan lahan terluas se-ASEAN ini sama seperti kondisi saat aku duduk di sekolah menengah pertama, kampus ini dibuka dilahan yang sama sekali baru, jauh dari pusat peradaban, kota palembang. Namun secara perlahan peradaban mulai berkembang di lingkungan sekitar universitas ini berada, kota Indralaya. Masjid An Nur PareDan akhirnya saya mencoba menarik kesimpulan dari perjalanan-perjalanan ini ketika diberi kesempatan oleh Allah untuk menuntut ilmu di desa yang banyak di datangi banyak pelajar dari berbagai pelosok negeri di Indonesia, desa yang perlahan berubah menjadi kota, desa Tulungrejo Pare, atau kebanyakan menyebutnya sebagai kampung bahasa, kampung inggris pare. Saya tidak hadir dimana awal mula desa ini membentuk peradabannya, saya hadir justru saat peradaban didesa ini sudah hampir mapan. Mengorek-ngorek sejarah awal mula perkembangannya dan membandingkan dengan kondisi sekarang dimana tampak jelas perubahan diberbagai aspek kehidupan di lingkungan dimana ilmu pengetahuan ini dikembangkan. Warga yang semula kebanyakan berprofesi sebagai petani yang penghasilannya tidak seberapa, kini sudah mengalami kemajuan, mulai merambah ke bisnis kuliner, kos-kosan, kursusan, jasa wisata, dll. Desa yang posisinya hanyalah perlintasan ibu-ibu kota, dari kediri ke malang atau kediri ke surabaya, kini menjadi jalur utama dan salah satu perhentian oleh setiap bus yang melintas karena selalu ada yang akan turun dan naik ke desa ini. Fasilitas-fasilitas publik pun berkembang dengan sangat pesat, jumlah rumah sakit yang mengalahkan jumlah di ibu kota kabupatennya sendiri, masjid agung kabupaten yang justru berada di desa ini. Serta kemajuan-kemajuan lain yang telah dihasilkan yang hanya disebabkan oleh kesunguh-sungguhan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Hal ini memberanikan saya untuk menyimpulkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan salah satu pendorong terbentuknya peradaban.

Wallahu A’lam Bishawab.
Semoga Bermanfaat, Salam Peradaban!
Dalam Penantian Turkish Scholarship Announcement, 21.04.2015
Selamat Hari Kartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s