Dakwah Para Penerjemah

Dakwah Para Penerjemah

Pagi yang cerah kembali hadir mengawali aktivitas di desanya para pencari ilmu. Layaknya kota-kota besar yang sudah gaduh meski matahari baru muncul sepenggal, di desa ini pun tidak jauh berbeda, laki-laki maupun wanita dengan sepedanya masing-masing sudah memenuhi jalanan Anyelir dan Brawijaya. Hanya saja berbeda dalam aktivitasnya, jika di kota-kota besar, orang-orang sibuk berangkat menuju ke kantor mencari nafkah, tapi disini orang-orang sibuk berangkat untuk dapatkan yang namanya ilmu. Mengagumkan melihat kesibukan di desa ini, betapa semangat mencari ilmu seperti sebuah perlombaan, berlomba dalam kebaikan. Saya selalu merindukan budaya cinta ilmu seperti ini hadir secara merata di seluruh negeri ini dan tidak hanya ilmu duniawi tapi juga ilmu ukhrowi. Saya akan tersenyum optimis jika hal itu benar-benar terjadi. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun ke depan bumi pertiwi ini akan mencicipi buah manis perjuangan anak negerinya dengan hadirnya para pemimpin-pemimpin muda yang visioner dan religius, akademisi-akademisi yang ahli dan profesional di bidangnya masing-masing, serta unsur pelengkap negeri yang madani lainnya yang berkapabilitas dan tetap dengan kesholehan yang tinggi.

Berbicara tentang ilmu, tidak akan lepas kaitannya dengan sumber ilmu yakni buku atau kitab atau tulisan yang dimana saja ia di letakkan. Buku tersusun atas kumpulan ide yang di tuangkan dalam tulisan. Untuk dapat memahaminya di perlukan kemampuan membaca. Dan kemampuan membaca dibentuk oleh kemampuan bahasa. Kemampuan bahasa merupakan kunci untuk memahami ilmu yang tertulis di dalam sebuah buku. Meski bisa membaca namun tidak di dukung dengan kemampuan bahasa, belum tentu makna yang terkandung di dalamnya dapat di pahami dengan benar. Seperti ketika membaca literature berbahasa asing, meskipun bisa membaca, menyebut satu persatu kalimatnya, tapi ketika tidak memiliki kemampuan bahasa yang baik, makna yang terkandung sedikit sekali yang bisa di pahami. Sehingga peran para penerjemah dalam hal ini sangat di butuhkan.

Namun, setiap kali membaca buku hasil terjemahan para penerjemah kebiasaan yang sering terjadi adalah melewatkan ‘tidak memberi perhatian lebih’ pada siapa penerjemahnya. Padahal jasa mereka, para penerjemah, teramat besar. Bukan hanya karena ia berada pada kedudukan yang hampir sama dengan penulisnya yang karena jasanya ia dapatkan investasi amal jariyah dari siapa saja yang membaca hasil terjemahannya, tetapi juga karena proses yang di tempuhnya memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang secara kasat mata tidak tampak kesulitannya, tetapi pada kenyataannya, proses berpikirnya dapat menguras energi.

Pada kesempatan ini, Saya ingin berbagi tentang tantangan-tantangan yang di hadapi oleh penerjemah, tapi sebelum itu, terlebih dahulu saya akan menjelaskan sedikit tentang esensi dari bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi yang di pakai oleh manusia dalam mengekspresikan keinginan dari akal dan perasaannya.

Menurut pakar bahasa, jumlah bahasa sangat banyak dan beraneka ragam, sejarah bahasa telah mencatat hampir 50.000 bahasa di seluruh dunia yang di pakai oleh manusia dalam setiap perjalanan peradaban bahasa. Karena begitu banyaknya, para pakar mengklasifikasikan ke dalam beberapa bagian yang lebih dikenal dengan istilah rumpun bahasa.

Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa kesatuan seluruh rakyat Indonesia masuk ke dalam rumpun malayo polenesian. Rumpun ini mencakup keseluruhan bahasa yang di gunakan di wilayah asia terutama di wilayah asia tenggara dan sekitarnya. Sementara bahasa inggris dan arab, dua bahasa yang banyak digunakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan berada pada rumpun berbeda, bahasa inggris masuk dalam rumpun Indo European dan bahasa arab masuk dalam rumpun Semit.

Dan, Tantangan para penerjemah yang saya maksud di atas adalah tantangan ketika penerjemah melakukan penerjemahan melibatkan bahasa yang berbeda rumpun. Seperti menerjemah dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia atau dari bahasa arab ke bahasa Indonesia. Setidaknya ada 4 tantangan utama yang di hadapi, di antaranya;

  1. Kosa Kata (lexicon)

Pada kasus kosa kata, ada hal unik jika menganalisa kosa kata yang dimiliki oleh bahasa Indonesia, bahasa Indonesia ternyata memiliki jumlah kosa kata yang sangat sedikit jika di bandingkan dengan bahasa inggris maupun bahasa arab, berkisar 91.000 kata, sedangkan bahasa inggris berkisar 1.022.000 kata dan bahasa arab sekitar 6.699.400 kata. Akibatnya, jumlah kosa kata yang sedikit tersebut, sekitar 30%, digunakan untuk 100% penggunaan atau di istilahkan dengan ‘one for all’. Maka tidak heran jika satu kata dalam bahasa Indonesia bisa memiliki makna yang berbeda sama sekali. Seperti kata bunga, ada bunga desa, bunga bank, bunga pasir, dan bunga-bunga lainnya. Lebih mengandalkan intuisi dalam menerjemahnya. Ituisi yaitu mencari makna dengan cara menyesuaikan konteksnya.

Sementara bahasa inggris atau bahasa arab karena jumlah kosa katanya yang banyak, masing-masing kata ada peruntukannya (aturan penggunaannya) atau istilahnya ‘one for one’ sekitar 70% dan ‘one for all’ nya hanya sekitar 30%, sehingga proses menerjemahnya lebih pada pendekatan diksi. Diksi yaitu merujuk pada makna asli dari kata tersebut.

  1. Struktur Bahasa (Syntax)

Yaitu lebih pada pola kalimat yang digunakan. Pada bagian ini, perbedaan yang mencolok antara bahasa Indonesia dengan bahasa inggris atau arab yaitu ada pada perubahan bentuk kata kerjanya. Dalam bahasa Indonesia, kata pergi, digunakan dalam konteks apapun dan kapanpun tetap seperti itu, tidak ada perubahan. Sementara bahasa inggris, perubahannya sangat tinggi, kata “go” yang bermakna pergi jika digunakan untuk subjek tunggal maka ia menjadi “goes” atau menceritakan kejadian masa lalu menjadi “went” atau menceritakan bahwa ia sedang pergi, menjadi “going” dll.

Karena perubahan kata yang sangat tinggi inilah para penerjemah tidak bisa hanya mengandalkan kamus, para penerjemah di tuntut untuk paham tentang perubahan-perubahan ini melalui proses belajar tata bahasa.

  1. Budaya Bahasa

Selain tantangan kosa kata dan struktur bahasa, tatangan lain yang perlu di taklukkan oleh penerjemah adalah pengetahuan tentang budaya pengguna bahasa tersebut. Pengetahuan tentang budaya akan sangat membantu dalam menerjemah ketika kosa kata dan struktur bahasa tidak begitu ampuh dalam menemukan makna. Sebagai contoh, kutipan kalimat dari buku American Story yang di ungkapkan oleh Franklin D.Roosevelt

“We must be the great arsenal of democracy.”

Secara kosa kata, arsenal bermakna ‘Gudang senjata’ dan secara struktur bahasa, kutipan tersebut mengungkapkan bahwa “Kita harus menjadi…..” dan jika di paksakan maka kalimat tersebut menjadi “Kita harus menjadi gudang senjata besar demokrasi.” Secara nalar, maknanya masih membingungkan.

Berbeda ketika kita mengenali budaya pengguna bahasa, kita bisa mendapatkan kata yang tepat untuk menjelaskan makna yang tidak di dapat melalui kamus ataupun struktur bahasa. Kata Arsenal atau gudang senjata, kita bisa pahami bahwa gudang senjata menunjukkan sebuah sumber, sumber persenjataan. Kata sumber jika dikaitkan dengan demokrasi kita bisa menggantinya dengan kata “rujukan” sehinga terjemah yang pas untuk kutipan tersebut adalah “Kita harus menjadi rujukan dalam berdemokrasi.” Dan terjemahan ini tepat jika di kaitkan dengan konteks budaya Negara Amerika yang menjadi referensi bagi Negara lain dalam berdemokrasi.

  1. Pelafalan (phonology) dan Bentuk Tulisan; Tantangan lainnya adalah perbedaan dalam pelafalan dan bentuk tulisan (seperti bahasa arab atau bahasa mandarin yang bentuk tulisannya berbeda sama sekali dengan bahasa Indonesia).

Tantangan-tantangan inilah yang menjadi sebagian alang rintang yang harus di taklukan para penerjemah. Susah, berat, sulit, yah..memang, karena ia memegang tanggung jawab besar, ketika ia salah dalam menerjemah bisa berakibat fatal, bisa-bisa ia menjadi dosa jariyah.

Tapi perannya juga sangat besar, seperti proses penyebaran islam yang tidak terlepas dari peran para penerjemah yang menerjemah literatur-literatur keislaman yang karena perjuangan mereka kita bisa mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang keislaman tanpa harus mempelajari bahasa arab terlebih dahulu.

Referensi :
1. Modul Translation Lembaga Kursus Elfast Pare
2.Wikipedia

Wallahu A’lam Bishawab.
Semoga Bermanfaat, Salam Peradaban!
Langkah-langkah menuju Turki, 30.01.2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s