Karena Cintamu Kurang!

IMG_0515Alkisah, ada dua kerajaan yang bertempat di pegunungan, satu kerajaan berada di atas pegunungan dan yang satunya berada di lereng pegunungan. Dua kerajaan ini saling bermusuhan, permusuhan yang menyebabkan terbentuknya pola kehidupan yang berbeda dan memberikan keunggulan pada masing-masing kerajaan. Kerajaan atas, karena posisinya berada di atas, punya akses yang lebih luas, mengetahui detil jalan-jalan menuju ke bawah. Sedangkan kerajaan yang berada di bawah, karena tidak pernah naik ke atas pegunungan, tidak mengetahui akses-akses jalan secara mendetil.

Suatu hari secara tiba-tiba Kerajaan Atas melakukan penyerbuan kepada Kerajaan Bawah, Kerajaan Bawah yang tidak mempersiapkan diri memilih untuk menyelamatkan diri, meninggalkan kerajaannya. Akibatnya, hanya sedikit orang yang berhasil menyelamatkan diri, salah satunya adalah raja Kerajaan Bawah beserta keluarga dan prajurit-prajurit pilihannya.

Setelah kondisi kembali normal, Raja Kerajaan Bawah mengumpulkan kembali prajurit-prajurit serta rakyat-rakyat yang berhasil menyelamatkan diri. Sang raja meminta prajurit-prajuritnya untuk memeriksa kembali kerajaannya yang telah di tinggalkan oleh Kerajaan Atas setelah penyerangan yang mereka lakukan untuk memeriksa korban-korban yang berjatuhan, mungkin ada yang masih bisa di selamatkan sekaligus mendata korban-korban yang berjatuhan.

Setelah di lakukan pemeriksaan, para prajurit melapor kepada sang raja bahwa dari korban-korban yang berjatuhan, ada satu orang yang tidak di temukan jasadnya yaitu anak raja itu sendiri yang masih bayi. Menerima laporan tersebut, sang raja mengindikasi bahwa anaknya telah di culik. Sang raja merasa bahwa akan ada skenario jahat dari Kerajaan Atas yakni menculik anaknya sendiri lalu di latih untuk membunuhnya.

Sang raja Kerajaan Bawah pun langsung berinisiatif mengumpulkan kembali prajurit-prajurit terbaiknya dan memerintahkan untuk menculik kembali anaknya dari Kerajaan Atas. Awalnya para prajurit menolak perintah sang Raja dengan alasan kekhawatiran mereka terhadap kerajaan atas yang lebih mengetahui detil jalan menuju ke atas sedangkan mereka tidak mengetahui akses jalan sama sekali. Meskipun sudah berdebat tentang baik buruk, untung ruginya dan kemungkinan berhasil atau tidaknya, sang Raja tetap memaksa mereka untuk berangkat. Dengan terpaksa para prajurit pun berangkat.

Dalam pendakian mereka ke atas gunung, terjadi perdebatan yang menyebabkan prajurit Kerajaan Bawah ini terbagi menjadi dua kelompok. Hal ini terjadi setelah tiga orang prajurit mati sia-sia. Prajurit Kerajaan Bawah yang tidak terlatih dalam mendaki mengalami kesulitan untuk sampai ke atas. Dalam pendakian pada bagian yang curam, panglima memerintahkan salah satu prajuritnya untuk mencoba terlebih dahulu. Baru beberapa tapak prajurit itu mendaki, tiba-tiba terjatuh dan mati, begitupun dua orang prajurit selanjutnya.

Kematian tiga prajurit secara sia-sia inilah yang menyebabkan prajurit ini terpecah menjadi dua kelompok, kelompok pertama yang tetap patuh pada perintah Sang Raja bersikukuh untuk melanjutkan perjalanan sedangkan kelompok kedua memilih untuk menghentikan misi penculikan kembali anak sang raja karena semua akan sia-sia.

Di tengah perdebatan dua kelompok prajurit Kerajaan Bawah ini, turun dari atas gunung seorang perempuan bercadar dengan seorang bayi yang di gendongnya. Perdebatan mereka pun terhenti. Dengan penuh keheranan mereka menghentikan perempuan tersebut. Lalu mereka bertanya pada perempuan tersebut, bagaimana caranya bisa naik ke atas padahal ia seorang perempuan sedangkan mereka yang merupakan prajurit-prajurit terlatih tidak mampu mendakinya. Lalu perempuan bercadar tersebut membuka cadarnya dan para prajurit yang melihatnya pun terkejut, ternyata perempuan tersebut adalah sang permaisuri, istri Raja dan bayi yang di gendongnya adalah bayi yang akan mereka culik kembali.

Alkisah ternyata sang permaisuri lebih dahulu berangkat daripada prajurit kerajaan pada malam ketika raja memerintahkan para prajurit untuk menculik kembali anaknya. Permaisuri berangkat sendirian mendaki ke puncak gunung tempat Kerajaan Atas berada.

Menerima pertanyaan bagaimana caranya ke atas dari para prajurit, Sang permaisuri menjawab dengan penuh wibawa, “Karena ia bukan Anak kalian!”

****

Kisah ini di sampaikan oleh ustadz Muhammad Thoyib, S.S., guru sekaligus pimpinan lembaga kursusan bahasa arab OCEAN pare dalam sesi belajar yang ana ikuti, Aidina Ula. Ketika itu salah satu santri mengeluhkan betapa susahnya menghapalkan mufrodat (kosa kata dalam bahasa arab), rasa-rasanya ia  lebih baik mundur saja.

Melalui kisah ini, Ust. Thoyib menasehati kami bahwa dalam melakukan sesuatu, terkhusus dalam menuntut ilmu, yang sangat perlu dilakukan adalah perbesar cinta kalian pada ilmu itu seperti halnya sang Permaisuri yang memiliki cinta teramat besar pada anaknya sehingga sesuatu yang di sangka tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang di sangka tidak bisa menjadi bisa. Jangan seperti prajurit pada kisah tersebut yang banyak ‘tapi-nya’. Belum memulai saja sudah banyak ‘tapi-nya.’

Pun dalam bidang atau periode hidup kita lainnya, perbesar cinta kita, maka semua menjadi mungkin dan mudah. Insya Allah

Wallahu A’lam Bishawab.
Semoga Bermanfaat, Salam Peradaban!
Pare, OTW to Turki, 11.12.2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s