Memaknai Perjalanan di Terowongan Surowuno

gua_surowono_02Pernah tidak kita mengalaminya? memberikan arahan pada teman beda daerah yang ingin berkunjung ke tempat kita yang mana dalam pengarahan itu kita menyebutkan beberapa bangunan yang menurut kita semua orang pasti mengetahui bangunan tersebut, tapi teman kita sangat sulit untuk menemukannya sampai-sampai ia berulang kali menanyakan atau bahkan membantah bahwa bangunan itu tidak ada.

Atau, pernah tidak kita mengalaminya ketika mandi, mata kita terkena sabun, terasa perih, sementara prosesi membersihkan badan belum selesai yang karenanya dengan terpaksa kita memejamkan mata sembari menyelesaikan prosesi bersih-bersihnya, lalu ketika ingin membilas, kita meraba-raba mencari gayung. Pernah tidak? Jika pernah, apa yang kita pikirkan pada saat itu?

Hal-hal kecil seperti ini terkadang hanya sedikit orang yang bisa dan mau mengambil pelajaran darinya, sama halnya dengan perjalanan yang saya lakukan dengan teman-teman camp Az-Zahroh berwisata ke terowongan (goa) surowono.

Terowongan (goa) Surowono merupakan salah satu alternatif wisata yang ada di kampung inggris Pare. Memang namanya lebih di kenal dengan sebutan Goa Surowono, tapi warga setempat lebih nyaman menyebutnya hanya sebuah terowongan karena memang lebih seperti sebuah kanal bawah tanah dan tampak ada campur tangan manusia dalam pembentukannya tidak murni terbentuk oleh alam. Terowongan Surowono ini berada di Desa Canggu, Kecamatan Pare, tidak terlalu jauh dari kampung inggris tempat kami berada. Aktivitas yang dilakukan disana adalah menyusuri terowongan tersebut yang terdiri dari 5 lorong utama. Ukurannya sempit hanya bisa dilalui oleh satu orang, tingginya sekitar 165 cm dan semakin menuju ke lorong 5, tinggi gua semakin rendah, sehingga menyusurinya dilakukan dengan tiga gaya, yaitu gaya berjalan normal (berdiri), gaya berjalan jongkok dan gaya merangkak.

Dalam perjalanan menyusuri terowongan, di lorong pertama, mulanya terasa biasa karena cahaya masih menyinari sudut-sudut terowongan, namun semakin ke dalam pencahayaan semakin berkurang dan semakin pekat. Begitupun dengan oksigen yang semakin berkurang karena pada saat itu jumlah pengunjung yang ikut cukup ramai. Pada kondisi inilah, saya mulai menikmati dan menghayati, membayangkan diri ini pada posisi yang sulit untuk mendapatkan pelajaran hidup dari perjalanan ini, mulai dari membayangkan bahaya yang mungkin terjadi sampai bayangan ekstrem lainnya seperti bayangan kalau seandainya terowongan ini longsor, lalu kalau-kalau ada anaconda yang tiba-tiba menyerang..he. Namun dari kesemua bayangan itu ada satu yang bayangan yang begitu menggugahku, bayangan ini hadir bukan dari ingatan film-film yang pernah ku tonton tapi bayangan ini hadir dari ingatanku pada salah satu firman Allah di dalam Al-Qur’an.

Bayangan yang menggugah itu hadir ketika teman yang paling belakang yang bertugas memegang senter dan memberikan penerangan kepada kami yang berada di depan tidak mengarahkan senternya ke depan tapi sibuk menyinari sisi samping terowongan, sehingga perjalanan pun terhenti. Pada saat berhenti, gelap pekat tanpa cahaya sedikit pun inilah yang menghantarkanku pada bayangan nyata tentang apa yang Allah jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 17-20;

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 17-20)

diantara-mulut-terowongan-sisi-utara-dan-selatanSeluruh sudut terowongan yang gelap, tidak ada secercah cahaya pun yang masuk, menyadarkanku bahwa seperti inilah kondisi ketika tidak ada cahaya atau petunjuk dalam mengarungi kehidupan. Dan, seperti inilah kondisi ketika sepanjang pandangan mata memandang hanyalah kegelapan, apalagi cahaya dari ujung terowongan juga tak kunjung hadir, merasakan diri ini seperti di rundung keputusasaan, hilangnya sebuah harapan. Benar-benar dapat merasakan, apa dan siapa yang bisa di harapkan ketika semuanya gelap seperti layaknya seorang yang buta, bisu dan tuli selain Allah yang Maha Kuasa.

Dari kejadian itu saya mendapatkan beberapa hikmah yang di antaranya dua point penting dalam mengarungi kehidupan, pertama, kesadaran bahwa kondisi ketiadaan cahaya (red. petunjuk) adalah kondisi terburuk bagi seorang manusia lahir ke dunia. Kedua, urgentnya peran strategis orang-orang yang memiliki sumber daya berupa ilmu dalam memberikan penerangan seperti halnya temanku yang bertugas memberikan penerangan dalam perjalanan di terowongan surowono.

Seperti di awal tulisan ini, saya telah mencontohkan bagaimana kondisi teman dari luar daerah dan kondisi ketika kita dengan terpaksa meniru kondisi orang buta, itu semua adalah contoh kecil ketika kita hidup dalam ketiadaan cahaya (petunjuk), punya mata tapi tidak mampu melihat, atau meraba-raba tanpa adanya kepastian. Kita membutuhkan cahaya (petunjuk), tidak bisa tidak. Cahaya (petunjuk) yang mampu menerangi jalan menuju ujung terowongan kehidupan dan cahaya yang mampu menjaga asa untuk kita terus melangkah.

Kedua, orang-orang yang Allah beri rezeki berupa ilmu dan pemahaman tentangnya memiliki peran strategis dalam membantu anak cucu adam menuju ujung terowongan dalam kondisi selamat. Keengganan orang-orang yang berilmu untuk membantu entah itu karena kesibukan mereka pada hal-hal lain seperti temanku yang sibuk menyinari sisi terowongan atau hal-hal lain yang melalaikan mereka dari tugas utama itu adalah penyebab utama anak cucu adam tersesat di dunia. Wallahu A’lam Bishawab.

Semoga Bermanfaat, Salam Peradaban!
Dalam perjalanan menuju Turki, 11.11.2014

One thought on “Memaknai Perjalanan di Terowongan Surowuno

  1. Pengen Liburan sambil belajar Bahsa Inggris yuk ke Elfast English Course Kampung Inggris Pare kediri menyediakan Program Speaking,Grammar,Pre TOEFL ITP,TOEFL IBT,TOEFL ITP,IELTS dan Camp english area, TOEFL CAMP info lebih lanjut :
    http://www.elfast-pare.com
    Twitter : @elfastcourse
    LIke FanPage : Elfast English Course
    0354 399844
    Jln Kemuning Kampung Inggris Pare Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s