Belajar Bahasa itu Mengenali Objek Dakwah

flags-69190_640Persaingan penguasaan dunia melalui bahasa dominan dikuasai oleh dua hegemoni bahasa yaitu arab dan inggris. Persaingan ini tampak ketika terjadi perdebatan mana yang lebih prioritas di antara keduanya, bahasa arab atau bahasa inggris. Bahasa arab menjadi prioritas karena ia merupakan bahasanya penduduk surga atau dengan kata lain ada misi akhirat yang di usung dalam mempelajarinya. Di sisi lain, bahasa inggris tidak bisa di tampikkan bahwa ia menjadi bahasanya penduduk bumi saat ini, hampir setiap kemajuan yang terjadi di dunia saat ini di bahasakan dalam bahasa inggris. Sehingga ketika tidak memilihnya seolah dunia meninggalkan jauh di belakang.

Pandangan tentang bahasa ini akhirnya membentuk pola pikir yang sempit dan membawa pelaku pada sikap yang terbatas, terpenjara dalam box “ini baik dan ini tidak baik” hingga tindakan yang ekstrem yakni mendeskreditkan orang-orang yang mempelajari bahasa-bahasa minoritas.

Untuk itu saya coba mengajak keluar dari box pandangan yang sempit tentang pilihan mempelajari bahasa baik yang mayoritas maupun minoritas ini melalui kisah dari suri tauladan terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad saw. Ingatkah kisah Rasulullah saw bertemu dengan Addas, budaknya Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah?

Ketika itu, setelah menerima perlakuan buruk dari kaum thaif, Rasulullah saw beristirahat di salah satu pohon di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Melihat kondisi Rasulullah saw, Utbah dan Syaibah menyuruh hamba mereka yang bernama Addas untuk datang kepada Rasulullah saw dengan membawa sedikit anggur untuk Beliau. Mengenal sepintas sosok yang bernama Addas, Addas ini adalah seorang yang beragama nasrani dari negeri Niniva (kota lama dari Iraq).

Ketika Addas datang lalu memberikan anggur yang di bawanya kepada Rasulullah, Rasulullah saw pun menerimanya, dan membaca Bismillah sebelum memakannya. Mendengar itu, Addas berkata, “Kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk negeri ini.” Lalu Rasulullah bertanya ‘Siapa namamu?’ ‘Addas!’ ‘Dari mana engkau?’ tanya beliau lagi. ‘Dari negeri Niniva!’ jawab Addas. ‘Oh, dari kota Nabi yang saleh, Yunus bin Matta!’ Mendengar jawaban Nabi itu, Addas menjadi lebih heran dari mana orang ini tahu tentang Nabi Yunus bin Matta? Dia tidak sabar lagi hendak tahu, sementara tuannya Utbah dan Syaibah melihat saja kelakuan hambanya yang terlihat begitu mesra dengan Nabi SAW itu. ‘Dari mana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?!’ Addas keheranan. ‘Dia seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama kepada kaumnya,’ jawab beliau. Beliau lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Nabi Yunus AS itu, dan sudah menjadi tabiat beliau, beliau tidak pernah memperkecilkan siapa pun yang diutus Allah untuk membawa perutusannya. Mendengar semua keterangan dari Rasulullah SAW Addas semakin kuat mempercayai bahwa orang yang berkata-kata dengannya ini adalah seorang Nabi yang diutus Allah. Lalu dia pun menundukkan kepalanya kepada beliau sambil mencium kedua tapak kaki beliau yang penuh dengan darah itu.

Kisah yang inspiratif, coba perhatikan bagaimana teknik komunikasi yang Rasulullah saw lakukan, di awali dengan mengenalkan identitas diri sebagai seorang muslim yakni dengan membaca bismillah ketika memulai sesuatu, dan ini terbukti efektif menarik perhatian siapapun, tak terkecuali Addas yang menjadi lawan bicara Rasulullah saw saat itu. Ketika berhasil menarik perhatian, Rasulullah menanyakan nama dan asal, dan coba perhatikan jawaban Rasulullah setelah mengetahui asalnya Addas, Rasulullah menjawab ‘Oh, dari kota Nabi yang saleh, Yunus bin Matta!’, ini respon yang jenius, Rasulullah saw tidak lantas merespon balik dengan mengenalkan dirinya atau lanjut memberikan pertanyaan lainnya tapi memberikan jawaban yang mengandung pujian dan juga menyentuh lawan bicara. Jawaban Rasulullah saw tersebut mengisyaratkan pengenalan Rasulullah kepada lawan bicaranya, karakter dan sifat lawan bicaranya setelah mengetahui asalnya sehingga dengan pengenalan itu, Rasulullah saw tahu respon yang tepat untuk lawan bicaranya.

Meski kisah ini tidak menunjukkan secara langsung penggunaan bahasa yang mereka lakukan, namun komunikasi yang Rasulullah saw dan Addas lakukan memberikan pengajaran tentang manfaat lain mempelajari bahasa. Kita bisa memberikan respon yang tepat kepada lawan bicara ketika kita mengetahui bagaimana sifat dan tabiat mereka dan untuk mengetahui hal itu, kita bisa dapatkan dengan mempelajari bahasa mereka karena belajar bahasa tidak hanya belajar untuk bisa menggunakan tetapi juga belajar kebudayaan, karakter, sifat dan sikap yang tepat dalam meresponnya.

“ini ungkapan yang sopan dan ini tidak karena ini itu… dst.”

Dan umat muslim sebagai Da’i sebelum menjadi apapun memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebaikan (Islam) meskipun hanya satu ayat kepada seluruh umat manusia, tidak terbatas kepada yang sama bahasa saja tetapi kepada yang berbeda bahasa juga. Untuk dapat membantu menyampaikan pesan kebaikan (Islam) dengan cara yang baik dan mereka sukai, maka belajar bahasa sangat di perlukan.

Akhirnya, dengan misi menyampaikan kebaikan (dakwah), pilihan mempelajari bahasa baik yang mayoritas maupun minoritas kini memiliki dimensi yang lebih luas yakni dimensi duniawi dan ukhrowi sekaligus.

Wallahu A’lam Bishawab.
Semoga Bermanfaat, Salam Peradaban!

Az-Zahroh English & Arabic Camp
Tulungrejo Pare, 11.10.2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s