Dakwah itu Menjadi Seniman Profesional

MelukisDua hari yang lalu, saya mengikuti rangkaian acara musyawarah nasional komunitas mahasiswa akuntansi se-Indonesia, sebelumnya saya belum tergabung dalam komunitas ini, tetapi takdir Allah mempertemukannya melalui lomba yang di adakan beberapa bulan yang lalu dimana saya mendapat juara pada lomba tersebut.

Pada acara itu saya bertemu dengan calon-calon akuntan dengan latar belakang dan bahkan agama yang beragam, dalam pertemuan itu saya lebih memperhatikan tingkah laku dan kecenderungan mereka terhadap sisi spiritualnya mengingat betapa urgent-nya peran para akuntan ini dalam kemajuan bangsa ke depan.

Bayangkan di Indonesia ada berapa kabupaten kota, lalu dari kabupaten kota itu ada berapa departemen kedinasan, belum lagi BUMN, Perguruan Tinggi (PT) dan Perusahaan-perusahaan Swasta, semuanya membutuhkan jasa akuntan, akuntan itu terdiri dari akuntan perusahaan, akuntan pemerintah, akuntan pendidik dan auditor. Bayangkan jika seorang akuntan secara spiritual lemah, apa yang akan terjadi, mungkin kasus pemalsuan laporan keuangan dan penggelapan uang-uang rakyat akan semakin marak dan ujung-ujungnya rakyat yang akan menerima dampaknya.

Urgensi inilah yang mestinya mulai di kedepankan dalam agenda dakwah ke depan, mulai masuk pada sektor keprofesian masing-masing. Memang dalam memulai dakwah di lahan yang baru ini tidaklah mudah, ada banyak hal yang akan di korbankan. Sebagaimana yang saya alami, saya yang selama ini lebih banyak mengikuti kegiatan sesama Aktivis di Kampus di bandingkan berbaur dengan mahasiswa umumnya kadang merasa canggung dengan segala tingkah yang selama ini tidak biasa bagiku, bagi mereka semua itu biasa saja, sesuatu yang sulit untuk meninggalkannya, sholat tepat waktu, pada mereka tampak itu tidak jadi soal, dan kasus lainnya yang semakin lama akan mereduksi ketaatan yang selama ini di biasakan (red. keimanan). Bisa-bisa kita yang awalnya ingin mewarnai justru terwarnai.

Meski begitu, mungkin apa yang di sampaikan Syeikh Abbas As Sisiy dalam bukunya, “Bagaimana Menyentuh Hati” bisa menjadi rujukan kita dalam menjalankan misi dakwah di bidang keprofesian ini;

Pertama, perlu di pahami bahwa dakwah yang akan di lakukan adalah dakwah fardiyah bukan tabliqh. Perbedaan mendasar antara keduanya adalah tentang durasi dakwah yang di lakukan, tabliqh itu hanya dalam satu waktu selesai, tetapi dakwah fardiyah itu berkesinambungan, seperti menanam pohon, di mulai dengan menabur benihnya, lalu menyiram dan mempupukinya sampai akhirnya baru berbuah. Sehingga dalam menjalaninya membutuhkan kesabaran.

Kedua, dalam langkah pertama memulai dakwah (tahap menabur benih), Syeikh Abbas As Sisiy memberikan beberapa cara yang bisa kita terapkan diantaranya dengan memaksimalkan indera (mulut, telingga, mata dan tangan) dan menghapal nama.

Indera yang Allah anugrahkan kepada semua manusia memiliki daya magis yang dapat mempererat hubungan, ketika senyum dibalas senyum, ketika mata bertemu mata, ketika tangan bersalaman, ikatan itu akan terjalin dan semakin erat ketika indera semakin di maksimalkan, ini juga mungkin salah satu alasan mengapa Islam melarang yang lawan jenis non muhrim untuk bersentuhan. Dengan kita memaksimalkan fungsi indera kita, apalagi di sertai dengan niat yang tulus dari hati, sejatinya kita telah menaburkan benih dakwah pada mereka.

Lalu, tentang menghapalkan nama, ada kisah menarik yang hadir dari Imam Hasan Al Banna ra. Dalam acara perkemahan, para peserta yang belum pernah bertemu dengan sang imam terkejut dan sekaligus kagum dengan Imam Hasan Al Banna yang ketika menyalami mereka, sang Imam menyebutkan nama mereka satu per satu, padahal mereka belum mengenalkan nama mereka kepada sang imam. Dapat kita bayangkan bagaimana psikologis seseorang ketika hal itu di alaminya. Ketika di tanya bagaimana sang imam dapat melakukan hal tersebut, ternyata Imam Hasan Al Banna menghapalkan nama mereka satu per satu ketika ia menandatangani kartu anggota peserta perkemahan tersebut. Patut di coba!

Ketiga, langkah selanjutnya yaitu tahap penyiraman dan pemupukan. Langkah ini dapat dilakukan dengan mengamalkan hadits Rasulullah saw tentang memenuhi hak seorang muslim, “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).” (HR. Muslim).

Bayangkan, ketika ia sakit dan orang yang pertama kali menjenguknya adalah kita, bagaimana psikologinya. Bayangkan, ketika kita penuhi hak-hak mereka, hati mana yang tak akan luluh, insya Allah mereka akan tersentuh dan pada saatnya mereka akan memberikan buahnya, bisa berupa pribadi yang bertaqwa dan bermanfaat atau bahkan ikut dalam barisan.

Melalui ketiga hal yang di pesankan oleh Syeikh Abbas As Sisiy ini, mudah-mudahan kita dapat mewarnai mereka di samping upaya diri menjaga agar tidak terwarnai seperti layaknya seorang seniman professional, mampu mewarnai setiap sudut gambar dengan begitu indah tanpa ikut terwarnai.

Wallahu A’lam Bishawab.
Semoga Bermanfaat, Salam Peradaban!
Dago, 8.9.2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s