Fiqh Prioritas : Perbedaan Tingkat Keutamaan Sesuai dengan Tingkat Perbedaan Waktu, Tempat dan Keadaan

QaradawiDI SINI masalah yang perlu dijelaskan, yaitu prioritas pelbagai perkara yang berkaitan dengan perbedaan waktu, tempat, pribadi, dan keadaan.

Kebanyakan, hal itu berkaitan dengan perbedaan yang dipengaruhi oleh waktu, lingkungan, dan pribadi seseorang. Dan banyak sekali contoh untuk ini.

Amalan Dunia yang Paling Afdal

Ulama kita berbeda pendapat mengenai jenis pekerjaan mana yang paling utama dan paling banyak pahalanya di sisi Allah SWT, apakah pertanian, perindustrian, ataukah perdagangan?

Penyebab perbedaan pendapat ini ialah hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan masingmasing jenis pekerjaan tersebut.

Keutamaan Pertanian dijelaskan oleh hadits berikut ini.

“Tidak ada seorang Muslimpun yang bercocok tanam kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang lainnya kecuali hal itu dianggap sebagai shadaqah yang dikeluarkan olehnya.” 43

Tentang keutamaan perindustrian diterangkan oleh hadits,

“Tidak seorangpun yang memakan makanan yang lebih balk dibandingkan dengan makanan yang berasal dari pekerjaan tangannya sendiri.” 44

Tentang keutamaan berniaga dijelaskan oleh hadits,

“Seorang pedagang yang jujur akan dibangkitkan bersama para nabi dan orang-orang jujur serta para syahid.” 45

Karena adanya hadits-hadits tersebut, maka para ulama ada yang lebih mengutamakan satu profesi atas yang lainnya. Akan tetapi para ulama yang mengecek kebenaran ketiga hadits tersebut berkata, “Kami tidak melebihkan sama sekali satu profesi atas yang lainnya, tetapi keutamaannya terletak pada keperluan masyarakat terhadap ketiga profesi tersebut.”

Kalau sedang terjadi masa kekurangan pangan, dan masyarakat sangat memerlukan bahan makanan sehari-hari mereka, maka pertanian adalah paling utama dibandingkan dua profesi yang lainnya, karena dapat menjaga umat dari kelaparan, sebab kelaparan merupakan bencana yang sangat membahayakan. Sehingga dalam hal ini pertanian dianggap dapat menyiapkan bahan-bahan makanan. Kalau pertanian merupakan sesuatu yang sulit diusahakan, maka kesabaran untuk tetap bertani merupakan pekerjaan yang paling utama.

Kalau bahan makanan melimpah, pertanian mudah diusahakan, dan orang-orang memerlukan pelbagai industri, sehingga kaum Muslimin tidak perlu lagi mengimpor barang-barang industri tersebut; perindustrian dapat membuka lapangan kerja bagi para penganggur; serta dapat melindungi keamanan negara –karena adanya perindustrian senjata; dan dapat menutup kekurangan produksi umat, maka perindustrian merupakan pekerjaan yang paling utama.

Ketika dunia pertanian dan perindustrian tercukupi, kemudian masyarakat memerlukan orang yang memasarkan kedua produk tersebut ke negara lain, sehingga orang tersebut merupakan perantara yang baik antara produsen dan konsumen; dan ketika dunia perniagaan dikuasai oleh orang-orang yang tamak, penimbun harta benda dan keperluan orang banyak, sehingga mereka dapat memainkan harga di pasaran, maka pekerjaan yang paling utama pada saat itu ialah perdagangan. Khususnya bila perdagangan ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak melalaikan Allah SWT, shalat dan zakat karena melakukan perniagaan tersebut.

Satu hal yang sangat diperlukan oleh umat kita pada abad ini ialah teknologi canggih, sehingga umat dapat memasuki abad ini dengan senjata ilmu pengetahuannya, dan tidak ketinggalan zaman. Umat tidak akan dapat membangkitkan misi Islamnya yang sangat dihormati oleh Allah SWT dan diberi kenikmatan yang sempurna sehingga mereka dapat mengajak seluruh dunia kepadanya, kalau umat ini kalah dengan yang lainnya dalam peralatan dan senjata yang canggih.

Oleh sebab itu, metodologi dan sistem pendidikan harus ditingkatkan untuk mencapai tujuan tersebut dan mengembalikan lagi kedudukan Islam yang terhormat di mata dunia. Ketika itu Islam mempunyai peradaban yang sangat maju, dengan akar yang mendalam, cabang yang sangat luas, serta siap menyongsong masa depan. Metodologi dan sistem pendidikan itu harus melihat kepada hal-hal yang sangat diperlukan oleh Islam dan umat Islam, serta perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang dipadukan dengan akidah, sistem dan peradaban Islam.

Sesungguhnya penguasaan teknologi canggih dan ilmu-ilmu yang menjadi perantara ke arah itu merupakan satu kewajiban sekaligus kepentingan. Kewajiban yang diwajibkan oleh agama, dan kepentingan yang didesak oleh kehidupan nyata kaum Muslimin. Itulah prioritas yang harus didahulukan oleh umat kita sekarang ini.

Ibadah yang Paling Utama

Masalah ibadah juga serupa dengan hal di atas, dalam kaitannya dengan individu. Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, sehingga banyak sekali pendapat yang mereka kemukakan.

Pendapat yang paling mendekati kebenaran menurut saya ialah pendapat Imam Ibn al-Qayyim, walaupun dia juga berbeda pendapat dengan orang lain, dari satu waktu ke waktu yang lain, dan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.

Dalam buku al-Madarij, imam Ibn al-Qayyim mengatakan, “Kemudian orang yang termasuk kelompok ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah’ mempunyai hak untuk memiliki ibadah yang paling utama, paling bermanfaat, dan paling berhak untuk melebihkan ibadatnya daripada yang lain. Ada empat golongan yang termasuk dalam kelompok ini:

Pertama, adalah kelompok yang memandang bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling afdal adalah ibadah yang paling sukar dan sulit untuk dilaksanakan.

Mereka berkata, “Karena sesungguhnya hal itu merupakan sesuatu yang paling jauh dari hawa nafsu, sekaligus merupakan hakikat penghambaan.”

Mereka berkata, “Pahala yang kita terima akan tergantung kepada tingkat kesulitan yang kita lakukan.” Mereka meriwayatkan hadits yang tidak ada dasarnya: “Amal ibadah yang paling afdal ialah yang paling sulit dan sukar dilakukan.” 46

Mereka memang orang perfeksionis dan penyiksa jiwa mereka.

Mereka berkata, “Hanya dengan cara seperti itu jiwa kami bisa lurus, karena jiwa ini memiliki sifat malas dan lemah, serta hendak menyatu dengan bumi. Jiwa itu tidak akan baik kecuali dengan memberikan beban berat dan kesulitan padanya.

Kedua, mereka yang mengatakan bahwa ibadah yang paling utama ialah melepaskan diri dan menjauhi dunia, mempersedikit kepentingan kita terhadap nya, dan tidak memberikan perhatian kepadanya. Kelompok ini terbagi menjadi dua:

  1. Kelompok awam yang menduga bahwa perkara ini merupakan tujuan akhir, sehingga mereka berusaha keras untuk mencapainya. Mereka mengajak orang untuk melakukannya. Mereka berkata, “Perbuatan ini lebih utama daripada ilmu dan ibadah.” Sehingga mereka memandang bahwa zuhud di dunia merupakan tujuan dan inti ibadah.

  2. Kelompok khusus yang melihat bahwa perkara ini merupakan tujuan antara, untuk mencapai tujuan yang lebih jauh yaitu ketenangan hati terhadap Allah SWT. Menumpukan segala perhatian dan mengosongkan hati untuk mencintai dan menyerahkan diri kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya dan menyibukkan diri untuk mencari keridhaan-Nya. Mereka memandang bahwa ibadah yang paling utama ialah dalam kelompok yang cinta kepada Allah, terus berzikir dengan hati dan lisan, serta menyibukkan diri untuk selalu mengingat-Nya tanpa mempedulikan perbedaan yang terdapat dalam hati. Kelompok inipun terbagi menjadi dua:

    1. Kelompok ‘arifun, yang apabila datang perintah dan larangan mereka segera melakukannya walaupun mereka harus berpisah dan melepaskan kelompoknya.

    2. Kelompok yang menyimpang, yaitu orang-orang yang berkata, “Tujuan ibadah ialah menyatukan hati kepada Allah. Jika ada sesuatu yang dapat memisahkan diri mereka dari Allah maka mereka tidak berpaling kepadanya. Barangkali salah seorang di antara mereka berkata, “Yang harus diminta untuk berwirid adalah orang yang lalai. Mengapa hati yang semua waktunya dipenuhi dengan wirid juga diminta untuk itu?”
      Kelompok ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu kelompok yang meninggalkan kewajiban dan fardhu untuk perkumpulannya; dan kelompok yang mengerjakan kewajiban tetapi meninggalkan semua amalan sunat. Sebagian pengikut kelompok ini pernah bertanya kepada seorang syaikh yang arif: “Jika muadzin mengumandangkan adzan dan aku sedang berada di perkumpulanku terhadap Allah, lalu jika aku berdiri dan ke luar, maka aku akan terpisah dari mereka. Tetapi jika aku tetap di tempat itu, maka aku tetap berada di perkumpulanku. Manakah kedua hal ini yang lebih utama bagiku?”

Syaikh yang arif menjawab, “Jika muadzin mengumandangkan adzan, dan engkau berada di bawah Arsy, maka berdirilah dan jawablah orang yang mengajak kepada Allah, kemudian kembalilah ke tempatmu. Hal ini karena sesungguhnya perkumpulan terhadap Allah merupakan bagian daripada ruh dan hati, dan menjawab ajakan muadzin adalah hak Tuhan. Maka barangsiapa yang mendahulukan kepentingan ruhnya atas hak Tuhannya, tidak termasuk kelompok “hanya kepada-Mu kami menyembah”.”

Ketiga, adalah kelompok yang melihat bahwa ibadah yang paling bermanfaat ialah ibadah yang sangat banyak manfaatnya. Mereka memandang bahwa ibadah ini lebih utama daripada ibadah yang sedikit manfaatnya. Mereka melihat bahwa berkhidmat terhadap fakir miskin, menyibukkan diri untuk kemaslahatan manusia dan memenuhi hajat keperluan mereka, memberikan bantuan harta benda dan tenaga merupakan ibadah yang paling utama. Mereka berusaha keras untuk melakukan ibadah ini, berdasarkan sabda Nabi saw,

“Semua makhluk ini adalah (berada dalam) asuhan Allah; dan mereka yang paling dicintai-Nya ialah (mereka) yang paling bermanfaat bagi asuhan-Nya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la)47

Mereka berhujjah bahwa amalan orang yang beribadah hanya kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan amalan orang yang bermanfaat menjalar kepada orang lain. Manakah kedua jenis orang ini yang lebih utama?

Mereka berkata, “Oleh karena itulah orang alim lebih utama daripada orang yang ahli ibadah, sebagaimana kelebihan bulan purnama atas bintang gemintang yang lain.”48

Mereka berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abu Thalib r.a.

“Sungguh bila engkau dapat memberikan petunjuk Allah kepada satu orang, maka hal itu lebih baik daripada melimpahnya berbagai nikmat kepada dirimu.” 49

Pemberian keutamaan seperti ini ialah karena adanya manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain. Di samping itu, ada argumentasi lain, berupa sabda Rasulullah saw,

“Barangsiapa mengajak orang kepada suatu petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikat, petunjuknya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melakukannya.” 50

Mereka juga berargumentasi dengan sabda Rasulullah saw,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” 51

“Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan kepada Allah oleh semua penghuni langit dan bumi, sampai ikan hiu yang ada di lautan dan semut yang berada di lubangnya.” 52

Merekajuga mengemukakan argumentasi bahwa sesungguhnya para nabi diutus ke dunia ini untuk menyampaikan kebaikan kepada makhluk-Nya dan memberikan petunjuk Allah kepada mereka, agar kehidupan dunia dan akhirat mereka betul-betul bermanfaat. Para nabi itu tidak diutus untuk menyampaikan agar manusia berkhalwat (menyendiri) dan memisahkan diri dari keramaian manusia, agar mereka hidup seperti pendeta. Oleh karena itu Nabi saw tidak begitu suka terhadap orang yang memperuntukkan seluruh waktunya untuk beribadah dan meninggalkan pergaulan dengan manusia. Mereka melihat bahwa berpisah untuk melaksanakan urusan Allah, dan memberikan perkhidmatan kepada hamba-Nya dan melakukan kebajikan untuk mereka adalah lebih utama daripada perkumpulan mereka.

Keempat, ialah kelompok yang mengatakan bahwa ibadah yang paling utama ialah bekerja untuk memperoleh keridhaan Tuhan setiap waktu, dengan melihat keperluan yang mendesak pada waktu itu. Oleh sebab itu, ibadah yang paling utama pada waktu perjuangan adalah berjuang, walaupun dia harus meninggalkan wirid, shalat malam dan puasa sunat; dan bahkan menunda shalat fardhu, kalau keadaan tidak aman.

Yang paling utama, menurut mereka, kalau kita kedatangan seorang tamu, maka kita harus menghormatinya, dan menyibukkan diri dalam menyambutnya walaupun kita harus meninggalkan wirid yang sunat. Begitu pula dalam memberikan layanan terhadap istri dan keluarga.

Ibadah yang paling utama pada waktu sahur ialah shalat dan membaca al-Qur’an, berdo,a, berdzikir, dan beristighfar.

Ibadah yang paling utama ketika kita mengajar murid-murid dan mengajar orang yang bodoh ialah betul-betul mengajar dan memusatkan pikiran kepada tugas yang kita emban itu.

Ibadah yang paling utama pada waktu adzan ialah meninggalkan wirid, dan segera menyambut seruan muadzin.

Ibadah yang paling utama pada waktu shalat fardhu yang lima ialah bersungguh-sungguh melaksanakannya sesempurna mungkin, dan segera melaksanakannya pada awal waktunya. Keluar menuju masjid, dan semakin jauh tempatnya maka semakin utama.

Kalau pada suatu waktu tenaga kita sangat diperlukan dan juga harta benda kita, maka kita harus mempersiapkan pemberian bantuan itu, dan lebih mendahulukan pekerjaan ini daripada membaca wirid dan berkhalwat.

Amalan yang paling utama ketika kita mendengarkan bacaan al-Qur’an ialah memusatkan hati dan pikiran kita untuk menghayati dan memahaminya seakan-akan Allah SWT sedang berbicara kepada kita. Kalau seluruh perhatian hati kita terpusat pada apa yang difirmankan oleh-Nya, maka kehendak hati kita untuk melaksanakan segala perintah-Nya adalah lebih utama daripada memusatkan hati kita kepada surat yang datang dari penguasa.

Amalan yang paling utama ketika kita sedang berwukuf di Arafah ialah bersungguh-sungguh merendahkan hati, berdo’a, dan berzikir kepada Allah, tanpa harus melaksanakan puasa yang dapat melemahkan tubuh kita ketika itu.

Amalan yang paling utama pada tanggal sepuluh Dzul Hijjah ialah memperbanyak ibadah, khususnya membaca takbir, tahlil, dan tahmid. Hal ini lebih utama daripada jihad yang bukan fardhu ‘ain.

Amalan yang paling utama pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan ialah pergi ke masjid, berkhalwat, beri’tikaf dan meninggalkan pergaulan dengan manusia. Sehingga banyak ulama yang memandang bahwa hal ini lebih utama daripada mengajarkan ilmu kepada mereka, dan mengajar mereka membaca al-Qur’an .

Amalan yang paling utama ketika teman kita sakit atau meninggal dunia ialah menjenguknya, dan mengantarkan jenazahnya, serta mengutamakan hal ini daripada berkhalwat dan menghadiri perkumpulan kita.

Amalan yang paling utama ketika turun bencana ialah bersabar terhadap orang yang ada di sekitarmu tanpa harus melarikan diri dari mereka. Karena sesungguhnya orang mu’min yang bergaul dengan manusia harus bersabar terhadap bencana yang menimpa mereka. Bersabar terhadap mereka adalah lebii, utama daripada tidak bergaul dengan mereka yang menyakiti hati mereka. Yang paling utama ialah tetap bergaul baik dengan mereka. Hal ini lebih baik daripada mengucilkan diri dari mereka ketika mereka mendapatkan bencana. Kalau kita melihat bahwa bila kita bergaul dengan mereka akan dapat menghilangkan atau mengurangi kesedihan mereka maka bergau1 dengan mereka dipandang lebih utama daripada mengucilkan diri dari mereka.

Amalan yang paling utama setiap waktu ialah mengutamakan pencapaian keridhaan Allah SWT pada setiap waktu dan keadaan, memusatkan perhatian terhadap kewajiban, dan tugas kita setiap waktu.

Orang-orang seperti ini adalah orang yang memang benar-benar ahli ibadah. Sedangkan tiga kelompok sebelum kelompok ini adalah ahli ibadah yang tidak mutlak. Apabila salah seorang dari tiga kelompok ini ke luar dari kelompoknya dan berpisah dari mereka, maka dia melihat dirinya kurang dan meninggalkan ibadahnya. Mereka menyembah Allah SWT dengan satu bentuk saja. Sedangkan orang yang disebut sebagai ahli ibadah yang mutlak ialah yang tidak mempunyai tujuan dalam ibadahnya, kecuali hanya mencari keridhaan Allah SWT di manapun dia berada, walaupun dia harus mendahulukan urusan yang lainnya. Dia senantiasa berpindah-pindah dalam tingkatan ibadahnya, setiap kali ada kesempatan baginya untuk meningkatkan taraf peribadatannya. Dia akan memusatkan perhatiannya kepada amalan yang sedang dihadapinya di manapun dia berada sampai tampak ada tingkatan lain yang lebih tinggi. Dia terus meningkat sehingga berakhir perjalanan hidupnya.

Ketika Anda melihat ulama, dia berada di tengah-tengah mereka; jika Anda melihat para hamba, maka kamu melihatnya di tengah-tengah mereka; jika Anda melihat para pejuang, maka kamu melihatnya berada di tengah-tengah mereka; jika Anda melihat orang yang berdzikir, maka Anda akan melihatnya di tengah tengah mereka; jika Anda melihat orang-orang yang bershadaqah dan melakukan kebajikan, maka Anda melihatnya bersama mereka; jika Anda melihat orang-orang yang memusatkan perhatiannya kepada Allah SWT, maka Anda menemukannya berada di tengah-tengah mereka.

Dia adalah hamba yang mutlak, yang tidak memiliki bentuk, tidak terikat, dan amal perbuatannya tidak ditujukan untuk dirinya sendiri, walaupun dia tidak merasakan kelezatan dan kenikmatan beribadah. Tetapi semua perbuatannya hanya ditujukan untuk Tuhannya, walaupun kelezatan dan kenikmatan beribadah itu ada pada orang lain. Orang seperti inilah yang dianggap telah dapat mewujudkan “hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Dia melaksanakan ayat ini dengan benar, mengenakan pakaian yang telah tersedia, memakan yang paling mudah, dan memusatkan perhatian terhadap perintah Allah setiap waktu, menempati tempat duduk yang kosong baginya, tidak melakukan ibadah yang mempunyai keterkaitan, tidak memiliki bentuk luar, benar-benar bebas, dia terus berputar mengikuti arus persoalan yang dia hadapi, beragama dengan agama yang memerintahkan dirinya, merasa senang dengan kebenaran, dan merasa asing dengan kebathilan.

Dia bagaikan air hujan, di manapun ia diturunkan selalu membawa manfaat. Dia bagaikan pohon kurma yang pohonnya tidak gugur, dan semua pohonnya bermanfaat sampaipun kepada durinya. Dia marah kepada orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah dan melanggar batas haram yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dia milik Allah, dengan Allah dan bersama Allah. Dia telah bersahabat dengan Allah dengan khusyu’, dan bersahabat dengan manusia dengan penuh keramahan.Bahkan, ketika dia bersama Allah, dia mengucilkan diri dari makhluk-Nya, dan menyepikan diri dari mereka. Ketika dia bersama makhluk-Nya, dia betul-betul berada di tengah-tengah mereka. Betapa unik dan langkanya manusia seperti ini! Betapa agung dan gembiranya ketika dia bersama Allah SWT, karena dia merasa tenang, dan damai di sisi-Nya. Hanya Allah ‘Azza wa Jalla tempat kita memohon pertolongan, tempat kita bergantung, dan tempat kita kembali. 53

Sumber : E-Book Fiqh Prioritas
Karya Dr. Yusuf Al Qardhawy

Catatan Kaki

43 Muttafaq ‘Alaih dari Anas, (al-Lu’lu’ wa al-Marjan, 1001)

44 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dari Miqdam (Shahih al-Jami’ as-Shaghir. 5546).

45 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Sa’id dalam al-Buyu’ (1209), dan di-hasan-kan olehnya dalam beberapa naskah; diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Ibn Umar dalam at-Tijarat (2139) tetapi di dalam isnad-nya ada seorang rawi yang dha’if.

46 Dalam al-Durar, al-Zarkasyi berkata: “Hadits ini tidak dikenal. Al-Mazi berkata: “Ini termasuk salah satu hadits gharib, yang tidak kita temukan di dalam salah satu kitab yang enam (al-Kutub al-Sittah). Dalam al-Mawdhu’ at al-Kubra. al-Qari berkata: “Maknanya benar.” Kemudian dia menguatkan pendapatnya dengan riwayat dari ‘Aisyah r.a. “Sesungguhnya pahalamu tergantung kepada usahamu.” (Lihat Kasyf al-Khafa’, 1: 155)

47 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir dan al-Awsath dari Ibn Mas’ud; diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan al-Bazzar dari Anas. Di dalam kedua sanad ini terdapat sesuatu yang tertinggal sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami (8:191); diriwayatkan oleh Thabrani dalam tiga bentuk dari Ibn Umar: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia…” Hadits ini dianggap hasan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (176)

48 Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Darda, yang diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis kitab Sunan, dan Ibn Hibban, sebagai yang tertulis dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (6297)

49 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ali bin Abu Thalib.

50 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim. dan para penyusun kitab sunan dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 6234)

51 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah secara marfu’: “Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, dan penghuni langit dan bumi, sampaipun semut yang berada di dalam lubangnya, dan ikan hiu yang ada di lautan memanjatkan shalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” Dia berkata bahwa hadits ini adalah hasan shahih gharib (2686); dan diriwayatkan oleh Thabrani sebagaimana disebutkan dalam al-Majma’, (1:124).

52 Merupakan bagian dari hadits Abu Darda, di atas, dengan sedikit perbedaan dalam redaksinya.

53 Madarij al-Salikin, 1:85-90; cetakan Al-sunnah al-Muhammadiyyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s