Fiqh Prioritas : Memprioritaskan Kualitas atas Kuantitas

Di antara hal-hal terpenting yang perlu diprioritaskan menurut pandangan syariat ialah: Mendahulukan kualitas dan jenis urusan atas kuantitas dan volume pekerjaan. Yang perlu mendapat perhatian kita bukanlah banyak dan besarnya persoalan yang dihadapi, tetapi kualitas dan jenis pekerjaan yang kita hadapi.

Al-Qur’an sangat mencela terhadap golongan mayoritas apabila di dalamnya hanya diisi oleh orang-orang yang tidak berakal, tidak berilmu, tidak beriman dan tidak bersyukur; sebagaimana disebutkan dalam berbagai tempat di dalamnya:

“… akan tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.” (al-Ankabut: 63)

“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf:187)

“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Hud:17)

“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (al-Baqarah: 243)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (al-An’am: 116)

Pada masa yang sama, al-Qur’an memberikan pujian terhadap kelompok minoritas apabila mereka beriman, bekerja keras, dan bersyukur; sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:

“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini…” (Shad: 24)

“… dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba’:13)

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi…” (al-Anfal: 26)

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka…” (Hud: 116)

Oleh karena itu, tidaklah penting jumlah manusia yang banyak, akan tetapi yang paling penting ialah banyaknya jumlah orang Mu’min yang shaleh.

Hadits Nabi pernah menyebut jumlah manusia yang banyak:

“Menikahlah kamu, kemudian berketurunanlah, agar jumlah kamu menjadi banyak, karena sesungguhnya aku bangga dengan jumlahmu yang banyak atas umat-umat yang lain.”1

Akan tetapi, Rasulullah saw tidak membanggakan kebodohan, kefasikan, kemiskinan dan kezaliman umatnya atas umat-umat yang lain. Namun beliau membanggakan orang-orang yang baik, bekerja keras, dan memberikan manfaatnya kepada orang lain. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Manusia itu bagaikan unta, di antara seratus ekor unta itu engkau belum tentu menemukan seekor yang boleh dijadikan sebagai tunggangan.”2

Perbedaan yang terjadi di antara umat manusia sendiri adalah paling banyak dibandingkan dengan perbedaan yang terjadi pada semua jenis binatang dan lainnya. Dalam sebuah hadits pernah dikatakan,

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada seribu yang semisalnya kecuali manusia.”3

Kita senang sekali dengan kuantitas dan jumlah yang banyak dalam segala sesuatu, dan suka menonjolkan angka beribu-ribu dan berjuta-juta; tetapi kita tidak banyak memperhatikan apa yang ada di balik jumlah yang banyak itu, dan apa yang terkandung di dalam angka-angka tersebut.

Salah seorang penyair pada zaman Arab Jahiliyah telah mengetahui pentingnya kualitas dibandingkan dengan kuantitas, ketika dia mengatakan,

“Ia mencela kami karena jumlah kami sedikit.

Maka kukatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang yang mulia itu sedikit.”

“Apalah ruginya kami sedikit, kalau dengan jumlah yang sedikit itu kami mulia.

Sedangkan orang-orang yang jumlahnya banyak itu terhina.”

Al-Qur’anpun menyebutkan kepada kita bagaimana tentara Thalut, yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan tentara Jalut, yang jumlahnya banyak:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberang sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. ” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah…” (al-Baqarah: 249-251)

Al-Qur’an menyebutkan kepada kita bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya dapat memperoleh kemenangan pada Perang Badar, padahal jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah musuh mereka, kaum musyrik yang jumlahnya sangat banyak.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Ali ,Imran: 123)

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang Makkah akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanrrya kamu kuat dengan pertolongan-Nya…” (al-Anfal: 26)

Pada saat yang lain, kaum Muslimin juga hampir menderita kekalahan pada Perang Hunain, karena mereka melihat kepada kuantitas dan bukan kualitas, sehingga mereka membanggakan diri dengan kuantitas, dan meremehkan kekuatan ruhaniah, serta kemahiran berperang. Kemudian pada awal peperangan mereka terkepung, sehingga mereka baru mengetahui dan menyadari, lalu bertobat; dan akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka, dengan memberikan bantuan kekuatan tentara yang tidak mereka lihat.

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mu’min) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (at-Taubah: 25-26)

Telah dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa apabila keimanan dan kemauan kuat atau kesabaran telah berkumpul dalam diri manusia, maka kekuatannya akan menjadi sepuluh kali lipat jumlah musuh-musuhnya, yang tidak memiliki keimanan dan kemauan. Allah SWT berfirman:

“Hai nabi, kobarkanlah semangat para Mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum Muslimin yang tidak mengerti.” (al-Anfal: 65)

Yang demikian ini ialah ketika keadaan mereka kuat. Sedangkan ketika mereka dalam keadaan lemah, maka kekuatan itu hanya menjadi dua kali lipat kekuatan musuh, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat ini:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua rarus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah…” (al-Anfal: 66)

Oleh karena itu, yang paling penting ialah keimanan dan kemauan, dan bukan jumlah yang banyak.

Barangsiapa mau membaca sirah Rasulullah saw maka dia akan mengetahui bahwa sesungguhnya perhatian beliau tertumpu kepada kualitas dan bukan kuantitas. Dan orang yang mau menyimak sirah para sahabat dan para khalifah rasyidin akan mendapati hal yang sama dengan jelas sekali.

Umar bin Khatab pernah mengutus Amr bin ‘Ash untuk menaklukkan Mesir, dengan membawa empat ribu orang tentara saja. Kemudian dia meminta tambahan personil tentara lagi, dan Umar memberi empat ribu orang tentara lagi, berikut empat orang komandannya. Umar berkata, “setiap orang komandan tambahan ini membawahkan seribu orang tentera; dan aku menilai jumlah mereka semuanya adalah dua belas ribu orang tentara. Dua belas ribu (tentara) tak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit.”

Umar sangat percaya bahwa yang paling penting ialah kualitas, kemampuan, dan kemauan mereka dan bukan jumlah dan besar mereka.

Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwasanya pada suatu hari beliau duduk bersama sebagian sahabatnya di sebuah rumah temannya, kemudian beliau berkata kepada mereka, “Tunjukkanlah cita-cita kamu.” Maka salah seorang di antara mereka berkata, “Aku bercita-cita ingin mempunyai dirham dari perak yang memenuhi rumah ini sehingga aku dapat menafkahkannya pada Jalan Allah.” Orang yang lain bercita-cita memiliki emas sepenuh rumah tersebut dan menafkahkannya di jalan Allah. Sementara Umar berkata, “Aku, ingin memiliki orang seperti Abu Ubaidah al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim Maula Abu Hudzaifah, sepenuh rumah ini agar aku dapat mempergunakannya untuk berjuang di jalan Allah.”

Pada zaman kita sekarang ini, jumlah kaum Muslimin sedunia telah melebihi satu seperempat milyar jiwa. Akan tetapi sayang sekali jumlah sebesar itu kebanyakan memiliki sifat yang pernah diutarakan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban,

“Pada suatu hari kelak, umar-umat akan memusuhi kalian dari segala penjuru, seperti orang-orang lapar yang memperebutkan makanan.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada masa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Bahkan, jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian hanya bagaikan buih yang terbawa arus air; dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada para musuh kalian; dan sungguh Allah akan menghujamkan wahn di dada kalian. ” Para sahabat bertanya kembali, “Apakah wahn itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (lihat al-Jami’ as-Shaghir: 8183).

Hadits ini menjelaskan bahwa jumlah yang banyak saja belum cukup, apabila jumlah ini hanya kelihatan megah dari luar, tetapi lemah dari dalam; sebagaimana periode ketika umat hanya bagaikan buih yang terseret arus air; di mana pada masa ini umat bagaikan buih, tidak memiliki identitas, kehilangan tujuan dan jalan yang benar; dan benar-benar seperti buih yang terbawa arus air.

Oleh karena itu, perhatian kita hendaknya ditujukan kepada kualitas dan jenis, bukan kepada sekadar kuantitas. Yang dimaksudkan dengan kuantitas di sini ialah jumlah sesuatu yang dilihat secara material, besarnya angka, luasnya jarak, besarnya isi, beratnya timbangan, panjangnya waktu, dan lain sebagainya yang serupa dengan itu.

Apa yang kami katakan tentang besarnya angka itu dapat dicontohkan dalam hal yang lain.

Manusia, misalnya, tidak diukur dari tinggi tubuhnya, kekuatan ototnya, besar tubuhnya, dan kecantikan wajahnya. Semua ini adalah hal-hal yang berada di luar inti dan hakikat kemanusiaan. Tubuh manusia –pada akhirnya– tidak lain hanyalah bungkus dan instrumennya, sedangkan hakikatnya ialah akal dan hatinya.

Allah SWT pernah memberikan penjelasan berkenaan dengan sifat-sifat orang munafik sebagai berikut:

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum…” (al-Munafiqun: 4)

Dia juga pernah memberikan sifat kaum ‘Ad, melalui lidah nabi-Nya, Hud a.s.:

“… dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu…” (al-A’raf: 69)

Akan tetapi sesungguhnya kelebihan kekuatan tubuh itu menjadikan mereka terkecoh dan menyombongkan diri, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Adapun kaum Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?…” (Fushshilat: 15)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

“Sungguh akan datang pada hari Kiamat seorang laki-laki besar dan gemuk, maka di sisi Allah ia tidak akan seberat timbangan sayap nyamuk. Allah berfirman: ‘… dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.'” (al-Kahfi: 105)4

Pada suatu hari Ibn Mas’ud memanjat sebuah pohon, maka tampaklah kedua betisnya yang lembek dan kurus, maka sebagian sahabat tertawa karena melihatnya. Kemudian Rasulullah saw yang mulia bersabda, “Apakah kamu tertawa karena melihat kedua betisnya yang lembek? Sesungguhnya, kedua betis itu jika ditimbang kelak (beratnya) lebih beret daripada bukit Uhud.”5

Oleh karena itu tidaklah begitu penting tubuh yang besar den kuat, kalau tidak disertai dengan akal pikiran yang cerdas den hati yang jernih. Dahulu penyair Arab mengatakan, “Engkau lihat para pemuda bagaikan kurma dan engkau tidak tahu apa isinya.”

Hasan bin Tsabit pernah mengejek suatu kaum Muslimin dengan mengatakan,

“Tidak mengapalah suatu kaum itu memiliki tubuh yang jangkung atau pendek, berbadan keledai tetapi berhati burung.”

Hal ini bukan berarti bahwa Islam tidak menetapkan suatu penilaian terhadap kekuatan den kesehatan tubuh manusia. Ia sangat peduli dengan kedua hal ini. Bahkan, Allah SWT memuji Thalut dengan firman-Nya:

“… dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa..” (al-Baqarah: 247)

Dalam hadits yang shahih disebutkan:

“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.”6

“Orang Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mu,min yang lemah.” 7

Akan tetapi, pernyataan-pernyataan ini tidak dijadikan sebagai ukuran keutamaan.

Tubuh yang perkasa dan kuat bukanlah ukuran kelelakian seseorang, dan bukan ukuran keutamaan pada diri manusia. Begitu pula kecantikan paras wajah dan bentuk tubuhnya. Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kamu, dan bentuk luar kamu, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu.”8

Salah seorang penyair pernah menyampaikan pujiannya kepada Abd al-Malik bin Marwan dengan mengatakan,

“Bila mahkota telah bertengger di atas kepalanya, seakan-akan wajahnya adalah wajah emas.”

Kemudian Abd al-Malik mencemoohkan sang penyair, karena dia memujinya dengan pujian yang menyerupai seorang perempuan cantik, seraya berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak memujiku seperti penyair yang memuji Mush’ab bin Zubair?”

“Sesungguhnya Mush’ab adalah meteor dari Allah, yang cahayanya menerangi kegelapan. Putusan yang dia tetapkan sangat kuat, tetapi tanpa mengandung kesewenang-wenangan.”

Memang… lelaki itu dinilai dari ilmu pengetahuan yang ada di otaknya, dan keimanan yang bersemayam di dalam hatinya; serta amalan sebagai buah imannya. Dan sesungguhnya amal perbuatan di dalam Islam ini tidaklah diukur dari besar dan jumlahnya, tetapi ia diukur dari sejauh mana kebaikan dan kualitasnya. Melakukan perbuatan yang baik bukanlah sunat di dalam Islam, tetapi merupakan sebuah fardhu yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang yang beriman, sebagaimana fardhu-fardhu yang diwajibkan atas mereka, seperti puasa dan fardhu-fardhu yang lainnya.

Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya Allah menulis (mewajibkan) perbuatan yang baik atas segala sesuatu. Jika kamu mau membunuh binatang, maka bunuhlah dengan baik, dan apabila kamu hendak menyembelihnya, maka sembelihlah dengan menyembelih yang baik. Dan hendaklah salah seorang di antara kamu menajamkan pisaunya, dan mengistirahatkan binatang yang disembelihnya.”9

Asal mula arti menulis (kataba) di dalam hadits tersebut menunjukkan adanya kewajiban atau fardhu.

Selain itu, Rasulullah saw juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang apabila melakukan sesuatu dia melakukannya dengan sebaik-baiknya.”10

Dia mencintai perbuatan itu dan juga mencintai orang yang melakukannya.

Bahkan, sesungguhnya al-Qur’an tidak menganggap cukup dengan pelaksanaan yang baik, tetapi menganjurkan mereka untuk melakukan yang terbaik. Allah SWT berfirman:

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (az-Zumar: 55)

“… Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya…” (az-Zumar: 17-18)

Bahkan, al-Qur’an menganjurkan kita untuk membantah orang-orang yang menentang kita dengan cara yang paling baik.

” … dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik…” (an-Nahl: 125)

Serta menyuruh kita untuk menolak kejahatan itu dengan cara yang baik daripada kejahatan tersebut.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fushshilat: 34)

Dan al-Qur’an melarang kita untuk mendekati harta kekayaan anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik.

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat…” (al-An’am: 152)

Selain itu, al-Qur’an menjadikan penciptaan bumi dan isinya, penciptaan mati dan hidup, penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya sebagai ujian bagi orang-orang yang dibebani kewajiban. Semua itu untuk mengetahui siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.

“… siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (al-Kahfi: 7)

Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Kitab Allah (Hud: 7; al-Mulk: 2; dan al-Kahfi: 7) bahwa persaingan di antara mereka bukanlah pada perbuatan baik dan buruk, tetapi antara perbuatan yang baik dan yang paling baik. Perhatian orang Mu’min hendaknya senantiasa tertumpu kepada yang paling baik dan tertinggi nilainya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Apabila kamu meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena ia surga yang terletak paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya adalah singgasana Tuhan.”11

Dalam hadits yang masyhur berkaitan dengan Jibril a.s. yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang al-ihsan, beliau menjawab:

“Ihsan itu ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan kalau kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”12

Begitulah penafsiran al-ihsan dalam ibadah. Yakni kita mesti senantiasa menjaganya, dan mengikhlaskannya untuk Allah SWT. Amalan-amalan yang diterima di sisi Allah tidak akan dilihat bentuk dan kuantitasnya, tetapi yang dilihat ialah inti dan kualitasnya. Betapa banyak amal yang dari segi lahiriahnya memenuhi syarat, tetapi amal itu kehilangan ruh yang meniupkan kehidupan ke dalamnya. Dan oleh karena itu amal tersebut tidak dianggap oleh agama sebagai amal kebajikan, dan tidak diletakkan di dalam ‘tangan’ timbangan amal kebajikan di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman:

Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya’ (al-Ma’un: 46)

Berkenaan dengan puasa, Rasulullah saw pernah bersabda,

“Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan perkataan bohong, dan mengerjakan kebohongan, maka Allah tidak perlu darinya meninggalkan makan dan minumnya.”13

“Bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya kecuali lapar, dan kebanyakan orang yang melakukan qiyam lail tidak mendapatkan pahalanya kecuali hanya keterjagaan di malam hari.”14

Allah SWT berfirman:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, …” (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw yang mulia bersabda,

Sesungguhnya amalan harus disertai dengan niat, dan setiap orang itu akan tergantung kepada niatnya. Maka barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa berhijrah untuk memperoleh dunia, atau berhijrah untak memperoleh wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk apa yang ia niatkan.”15

Oleh karena itu, para ulama Islam sangat memberikan perhatian kepada hadits tersebut. Bukhari juga membuka kitabnya, al-Jami’ as-Shahih, dengan hadits ini. Sebagian ulama menganggap bahwa niat adalah seperempat amalan Islam; sebagian yang lain menilainya sepertiga; karena niat itu begitu penting dalam hal yang berkaitan dengan diterimanya amalan seseorang. Mereka menganggapnya sebagai timbangan bagi inti amal perbuatan tersebut; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

“Barangsiapa melakukan suatu amalan, yang tidak ada landasan dari kami, maka amalan itu tidak diterima.”16

Abu Ali al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna “amalan yang paling baik” pada firman Allah: ” … siapakah di antara kamu yang paling baik amalannya… ” (Hud: 7), dia menjawab, “Amalan yang paling ikhlash dan paling baik.” Orang itu bertanya lagi: “Apakah amalan yang paling ikhlas dan paling baik ini?” Dia menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal perbuatan selama ia tidak murni dan baik. Jika amal perbuatan itu baik, tetapi tidak murni untuk-Nya, maka ia tidak diterima. Sebaliknya, jika amalan itu murni tetapi tidak baik, maka ia juga tidak diterima. Kemurnian amal itu hendaknya hanya semata-mata untuk Allah; sedangkan kebaikannya ialah bahwa amal itu hendaknya sesuai dengan apa yang digariskan oleh sunnah Nabi saw.”

Itulah makna “perbuatan yang paling baik” dalam urusan agama dan ibadah. Adapun kebaikan dalam urusan dunia ialah tercapainya tingkat kebaikan yang dapat mengalahkan yang lainnya, sehingga ia menjadi yang paling unggul. Dan perbuatan seperti ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang betul-betul serius.

Di antara hadits Nabi saw yang menunjukkan kepada persoalan ini ialah sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a.

“Barangsiapa yang membunuh kutu pada pijatan pertama, maka akan dituliskan baginya seratus kebaikan. Sedangkan pijatan kedua di bawah tingkatan itu, dan pijatan ketiga di bawahnya lagi.”17

Hadits ini mengarahkan kepada kita mengenai betapa pentingnya melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik dan sempurna, walaupun hanya membunuh seekor kutu. Karena hal ini sebetulnya termasuk membunuh dengan cara yang baik, “Apabila kamu menyembelih binatang, maka lakukanlah dengan baik.” Membunuh dengan cara yang cepat membuat binatang yang dibunuh itu tidak merasakan sakit.

Kalau amal perbuatan tidak dapat diukur dengan kuantitas dan besarnya, maka umur manusia tidak dapat diukur dengan lama waktunya.

Ada orang yang berumur panjang, tetapi umurnya tidak membawa berkah; dan ada pula orang yang tidak berumur panjang tetapi orang itu sarat dengan pelbagai kebajikan dan perbuatan yang terbaik.

Sehubungan dengan hal ini, Ibn ‘Atha’illah berkata dalam hikmahnya: “Banyak sekali umur panjang yang diberikan kepada manusia, tetapi sumbangan yang diberikannya sangat sedikit. Dan banyak sekali umur pendek yang diberikan kepada manusia, tetapi sumbangan yang diberikannya sangat banyak. Barangsiapa yang umurnya diberi berkah oleh Allah SWT maka dalam masa yang pendek dia akan mendapatkan berbagai karunia dari-Nya, yang sangat sulit untuk diungkapkan.”

Cukuplah bagi kita sebuah contoh. Yaitu Nabi saw yang mulia, dalam masa dua puluh tiga tahun –yaitu masa setelah beliau diangkat menjadi nabi– beliau diberi berkah oleh Allah SWT. Dalam masa ini beliau berhasil mendirikan agama yang paling mulia, mendidik generasi yang paling baik, menciptakan umat yang terbaik, mendirikan negara yang paling adil, menang terhadap penyembahan berhala orang-orang kafir, Yahudi, serta memberikan warisan abadi kepada umatnya –setelah kitab Allah– sunnah yang menjadi petunjuk, dan sirah yang sempurna.

Begitu pula halnya dengan Abu Bakar r.a. Dalam masa dua tahun setengah, dia berhasil mengalahkan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi-nabi palsu, mengembalikan orang-orang murtad ke pangkuan Islam, mengirimkan tentara untuk menaklukkan Persia dan Romawi, mendidik orang-orang yang enggan membayar zakat, menjaga hak-hak fakir miskin dengan mengambilkan hak mereka pada harta orang-orang kaya, dan merekamkan dalam sejarah kedaulatan Islam bahwa pemerintahannya adalah pemerintahan yang pertama kali berperang untuk membela hak-hak fakir miskin.

Umar bin Khatab dalam masa sepuluh tahun berhasil melakukan pelbagai penaklukan wilayah di luar, dan memantapkan kaidah pemerintahan yang adil berdasarkan musyawarah secara internal. Dia telah menciptakan berbagai tradisi yang baik bagi orang-orang sesudahnya yang dikenal dengan “prioritas Umar.” Dia telah berhasil memancangkan tiang-tiang fiqh sosial, khususnya fiqh kenegaraan, yang disandarkan kepada tujuan, pertimbangan antara pelbagai kemaslahatan, melindungi generasi, serta memberanikan orang untuk memberikan usulan dan kritik kepada hakim. Dia berkata, “Tidak ada kebaikan pada dirimu selama kamu tidak mau mengatakannya, dan tidak ada kebaikan bagi kami selama kami tidak mendengarkannya.” Selain itu, Umar juga sangat menjauhi dunia, memiliki kemauan yang kuat untuk menjalankan kebenaran, mewujudkan keadilan dan persamaan hak di antara manusia, bahkan bila dia harus melakukan qisas terhadap para gubernur dan anak-anaknya.

Umar bin Abd al-Aziz menjadi khalifah selama tiga puluh bulan. Melalui tangannya, Allah SWT menghidupkan tradisi keadilan dan kecemerlangan, mematikan kezaliman dan kesesatan. Dia menolak berbagai bentuk kezaliman dan memberikan hak-hak kepada orang yang berhak memperolehnya. Dia telah berhasil mengembalikan kepercayaan orang kepada Islam, sehingga semua orang merasa lega, tenang dan tidak merasa ketakutan. Dia memberi makan orang-orang yang lapar, menyebarluaskan kemakmuran, sehingga orang-orang yang berharta berkata, “Di mana kami harus meletakkan zakat, ketika semua manusia telah diberi kekayaan oleh Allah SWT.”

Imam Syafi’i, yang hidup selama lima puluh empat tahun –menurut perhitungan tahun qamariyah– (150-204 H.) tetapi dia mampu memberikan berbagai sumbangan ilmiah yang orisinal.

Imam al-Ghazali, yang hidup selama lima puluh lima tahun (450-505 H.) meninggalkan kekayaan ilmiah yang bermacam-macam.

Imam al-Nawawi, yang hidup selama empatpuluh lima tahun (631-676 H.) meninggalkan warisan yang sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin secara menyeluruh; baik berupa hadits, fiqh; yaitu dari hadits empat puluhnya hingga penjelasannya atas hadits Muslim; dari metodologi fiqh hingga Rawdhah al-Thalibin; dan lain-lain.

Begitu pula halnya dengan para ulama yang lain; seperti: Ibn Arabi, al-Sarakhsi, Ibn al-Jawzi, Ibn Qudamah, al-Qarafi, Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, al-Syathibi, Ibn Khaldun, Ibn Hajar, Ibn al-Wazir, Ibn al-Hammam, al-Suyuthi, al-Syaukani, dan lain-lain yang memenuhi dunia ini dengan ilmu dan keutamaannya.

Oleh karena itu, ada orang yang meninggal dunia sebelum dia mati. Umurnya telah habis padahal dia masih hidup. Tetapi ada orang yang dianggap masih hidup setelah dia meninggal dunia. Karena dia meninggalkan amal-amal yang shaleh, ilmu yang bermanfaat, keturunan yang baik, murid-murid yang dianggap dapat memperpanjang umurnya.

Sumber : E-Book Fiqh Prioritas
Karya Dr. Yusuf Al Qardhawy

Catatan Kaki

1 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasai’ dari Ma’qal bin Yasar, sebagaimana yang dimuat di dalam buku Shahih al-Jami’ as-Shaghir (2940).

2 Muttafaq ‘Alaih, dari Ibn Umar. Lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan (1651).

3 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir wa ad-Dhiya’, dari Salman, dan hadits ini dianggap sebagai hadis hasan di dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (5394)

4 Diriwayatian oleh Muttafaq Alaih dari Abu Hulairah r.a. yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan (1773).

5 Hadits ini shahih dan berasal dari riwayat Ali, yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, Thabrani, dengan rijal hadits yang shahih, selain Ummu Musa yang tsiqat. Selain itu, diriwayatkan pula dari Ibn Mas’ud sendiri yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan Thabrani dari berbagai jalan. Dan juga diriwayatkan dari Qurrah bin Iyas yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani dengan rijal hadits yang shahih. (Majma’ az-Zawa’id, 9:288-289).

6 Muttafaq ‘Alaih dari Abdullah bin Amir.

7 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r a.

8 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564)

9 Diriwayatkan oleh Muslim dari Syidad bin Aus (1955).

10 Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Kulaib, yang dikelompokkan sebagai hadits hasan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (1891).

11 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam “bab at-Tauhid” pada kitab Shahih-nya; yaitu dalam “bab Dan Singgasana Tuhan Berada di atas Air” (al-Fath, 13:404)

12 Muttafaq Alaih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan no. 5; dan diriwayatkan oleh Muslim dari Umar no. 8.

13 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r. a. dalam kitab al-Shawm, sebagaimana diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan al-Arba’ah.

14 al-Mundziri menulis dalam ar-Targhib “Diriwayatkan oleh Ibn Majah dengan lafal darinya; diriwayatkan oleh Nasai Ibn Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya; dan juga diriwayatkan oleh al-Hakim yang mengatakan “Hadits ini shahih menurut syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dengan lafal sebagai berikut: “Kebanyakan orang yang melakukan puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari bagian puasanya, dan kebanyakan orang yang melakukan qiyam lail hanya mendapattan keterjagaan dari bagian qiyamnya.”

15 Muttafaq ‘Alaih yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab. Hadits nomor satu dalam Shahih al-Bukhari.

16 Diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah dengan lafal tersebut; Sedangkan Muttafaq ‘Alaih meriwayatkan dengan lafal: “Barangsiapa mengadakan sesuatu yang bukan urusan kami, maka amalan itu ditolak.”

17 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah, dari Abu Huralrah r.a seperti yang tertulis dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (2460); kemudian baca buku kami al-Munraga min at-Targhib wat-Tarhib, dan komentar kami atas hadis no. 1811.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s