Laba Menurut Konsep Akuntansi (Accounting Income)

makalah akuntansiDalam Akuntansi yang memiliki konsep perhitungan laba juga dikenal perbedaan pandangan dalam menghitung laba (income). Disini kita perkenalkan empat pendapat, yaitu:

  1. Pemikiran klasik yang berpedoman pada postulat unit of measure dan Prinsip Historical Cost yang sering disebut Historical Cost Accounting atau Conventional Accounting sebagaimana yang kita anut saat ini, yang dinamakan konsep laba Accounting Income;
  2. Pemikiran neo klasik yang mengubah postulat unit of measure dengan menerapkan perhitungan perubahan tingkat harga umum (General Price Level) dan tetap mempertahankan prinsip Historical Cost, yang dikenal dengan istilah General Price Level Adjusted Historical Cost Accounting (GPLA Historical Accounting), dan perhitungan labanya disebut GPLA Accounting Income;
  3. Pemikiran radikal: yang memilih harga sekarang (current value) sebagai dasar penilaian bukan Historical Cost lagi, di mana konsep ini dikenal dengan Current Value Accounting, sedangkan perhitungan labanya disebut Current Income.
  4. Pemikiran neo radikal yang menggunakan Current Value, tetapi disesuaikan dengan perubahan tingkat harga umum, yang disebut GPLA Current Accounting, sedangkan perhitungan labanya disebut Adjusted Current Income.

Menurut akuntansi yang dimaksud dengan laba akuntansi itu adalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tersebut. Menurut Belkaoui, definisi tentang laba itu mengandung lima sifat berikut.

  1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi, yaitu timbulnya hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil tersebut.
  2. Laba akuntansi didasarkan postulat “periodik” laba itu, artinya merupakan prestasi perusahaan itu pada periode tertentu.
  3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip revenue yang memerlukan batasan tersendiri tentang apa yang termasuk hasil.
  4. Laba akuntansi memerlukan perhitungan terhadap biaya dalam bentuk biaya historis yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan hasil tertentu.
  5. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip matching artinya hasil dikurangi biaya yang diterima/dikeluarkan dalam periode yang sama.

Most menambahkan ciri-ciri laba akuntansi sebagai berikut.

  1. Laba akuntansi menggunakan konsep periodik.
  2. Laba akuntansi diperluas bukan hanya transaksi dan termasuk seluruh nilai fenomena dan periode yang dapat diukur.
  3. Laba akuntansi mengizinkan agregasi ke dalam kategori berupa input dan output.
  4. Oleh karena itu, perbandingan input dengan output akan menghasilkan sisa.
  5. Dengan demikian, mayoritas mereka yang berkepentingan terhadap angka itu dapat menggunakannya untuk berbagai tujuan.

Beberapa kebaikan dari konsep laba akuntansi ini adalah sebagai berikut.

  1. Dapat terus-menerus ditelusuri dan diuji.
  2. Karena perhitungannya didasarkan pada kenyataan yang terjadi (fakta) dan dilaporkan secara objektif, perhitungan laba ini dapat diperiksa (verifiability).
  3. Memenuhi prinsip conservatisme, karena yang diakui hanya laba yang direalisasi dan tidak memperhatikan perubahan nilai.
  4. Dapat dijadikan sebagai alat kontrol  oleh manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen.
    Para pendukung ini antara lain Ijiri, Kohler, Littleton, dan Mautz.

Namun, di samping adanya istimewaanya ini, kelemahan yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut.

  1. Tidak dapat menunjukkan laba yang belum direalisasi yang timbul dari kenaikan nilai. Kenaikan ini ada, namun belum direalisasi.
  2. Sulit mengakui kebenaran jika dilakukan perbandingan. Hal ini timbul karena perbedaan dalam metode menghitung cost, perbedaan waktu antara realisasi hasil dan biaya.
  3. Penerapan prinsip realisasi, Historical Cost, dan Conservatisme dapat menimbulkan salah pengertian tehadap data yang disajikan.

Herdiksen (1992) dan Most (1982) memberikan kelemahan laba akuntansi sebagai berikut.

  1. Konsep laba akuntansi belum dirumuskan secara jelas dalam teori akuntansi. Akuntansi dinilai :
    • Belum mampu memberikan ukuran terbaik untuk menentukan nilai arus jasa dan perubahan nilainya;
    • Belum sepakat mana yang masuk dan tidak masuk dalam perhitungan laba;
    • Ketidaksepakatan antara berbagai pihak siapa yang menjadi pemakai informasi net income ini.
  2. Standar akuntansi yang diterima umum masih mengandung berbagai cara yang berbeda-beda dan mengandung ketidakkonsistenan baik antar perusahaan maupun dalam suatu periode tertentu.
  3. Perubahan tingkat harga telah mengubah arti laba yang diukur berdasarkan nilai historis sehingga perubahan nilai uang atau tingkat inflasi belum diperhitungkan dalam laporan keuangan.
  4. Kurang bermanfaat untuk keputusan jangka pendek.
  5. Informasi lainnya di luar data historis dinilai lebih bermanfaat  bagi investor dalam pengambilan keputusan.
  6. Kurangnya informasi fisik dan prilaku yang membuat informasi laba semakin bermanfaat.

(Disalin dari Buku Teori Akuntansi edisi revisi 2011 Bab 11 : Konsep Laba, karya Sofyan Syafri Harahap)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s