Teori Akuntansi : Polemik Tentang Laba

makalah akuntansiSalah satu fungsi akuntansi adalah melakukan pengukuran termasuk pengukuran prestasi, hasil usaha, laba maupun posisi keuangan. Salah satu isu berat dalam pengukuran itu adalah pengukuran laba. Pengukuran laba ini bukan saja penting untuk menentukan prestasi perusahaan, tetapi juga penting sebagai informasi bagi pembagian laba, penentuan kebijakan investasi, pembayaran pajak, zakat, bonus, dan pembagian hasil.

Siapapun yang melakukan kegiatan bisnis pasti memiliki alasan ekonomis mengapa ia terus melakukan bisnis. Biasanya alasan tradisional itu adalah mendapatkan laba. Oleh karena itu, si pelaku bisnis itu sendiri pasti memiliki pandangan tentang apa yang dimaksudkannya sebagai laba dan bagaimana menentukan laba tersebut. Seorang pengusaha bisa saja menganggap bahwa laba perusahaannya adalah penjualan dikurangi seluruh biaya dikurangi investasi baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan. Dan tentu banyak lagi pandangan dan praktik masyarakat dalam pengukuran laba ini, namun yang sampai menjadi pembahasan adalah:

  1. Laba menurut ilmu ekonomi;
  2. Laba menurut fiskus (petugas pajak);
  3. Laba menurut akuntansi;
  4. Laba menurut perhitungan zakat.

Perbedaan itu disebabkan berbagai alasan antara lain :

  1. Benda atau produk dan jasa yang akan dinilai (biaya historis, biaya ganti, biaya realisasi, present value);
  2. Unit ukur (bisa unit ukur uang atau ukuran kemampuan tenaga beli).

Berdasarkan perbedaan pandangan dan alasan diatas muncullah berbagai polemik atau perbedaan persepsi tentang laba ini.

Polemik Tentang Laba

Hasil wawancara Tempo dengan Kwik Kian Gie yang dimuat Tempo edisi 25 November 1989 dirubrik Ekonomi & Bisnis dengan judul “Tidak Cukup dengan Ikhtikad Baik,” memuat tanggapan beliau tentang posisi AGIO SAHAM. Beliau berpendapat bahwa agio saham adalah laba karena empat alasan pokok. Alasan kwik dan jawaban dari penulis (Sofyan Syafri Harahap) dikemukakan seperti di bawah ini.

  1. Perusahaan biasanya minta agio dengan alasan akan membagikan keuntungan dikemudian hari.
    Jawaban penulis:
    Alasan ini tidak mudah untuk menopang pendapat agio sebagai laba. Penulis berpendapat agio bukan diminta. Agio muncul dari perbedaan harga jual saham dengan harga nominal yang telah dibayar investor. Tentu setelah mempertimbangkan secara rasional bahwa ia mau membeli saham tersebut. Alasan membagikan keuntungan di kemudian hari juga tidak dapat menguatkan bahwa agio adalah laba. Pembagian keuntungan sebenarnya bukan didasarkan pada agio atau pos lain diluar laba ditahan maupun laba tahun berjalan. “Membagikan keuntungan” mempunya arti bahwa yang dibagi adalah untung (laba) bukan yang lain. Dan bagian tersebut diberikan berupa kas, saham, atau aktiva jenis lainnya.
  2. Prinsip akuntansi secara ketat menetapkan agio harus dicantumkan secara terpisah karena agio bukan modal saham.
    Jawaban Penulis:
    Pencantuman agio saham secara terpisah dari perkiraan modal saham berarti setiap pos yang dipisahkan dari modal otomatis dianggap sebagai laba. Pemisahan itu ditujukan untuk melaksanakan prinsip full disclosure. Agio saham merupakan unsur modal setor (paid in capital) yang terdiri dari modal saham nominal ditambah dengan agio saham tadi. Infromasi tentang nilai nominal itu sangat perlu bagi investor dan analis. Hal yang benar adalah standar akuntansi secara ketat haqqul yakin menganggap agio bukan laba.
  3. Agio juga merupakan laba. Perusahaan boleh membagi dividen dari agio saham.
    Jawaban Penulis:
    Dividen adalah bagian laba yang diterima oleh pemilik perusahaan. Pembagian dividen ini didasarkan pada laba, baik laba ditahan maupun laba tahun berjalan. Secara teoritis tanpa laba tidak akan ada dividen. Namun, di Indonesia sering terjadi dividen sudah terjamin, kendatipun perhitungan laba rugi perusahaan belum final. Atau mungkin didasarkan pada laporan interim. Ini terjadi karena praktik pasar modal kita masih belum sepenuhnya diatur pasar.
  4. Agio boleh langsung dikantongi emiten.
    Jawaban Penulis:
    Agio bisa langsung dikantongi emiten adalah benar, namun jika karena dikantongi lalu dianggap sebagai laba, ini alasan yang sangat absurd.  Laba tidak sama dengan “penerimaan kas.” Kalau Kwik menganggap setiap yang dikantongi perusahaan adalah laba, yang paling senang adalah fiskus karena pemasukan pajak akan sangat deras. Pengertian laba yang paling diterima umum menurut penulis adalah laba menurut akuntansi. Konsep laba itu macam-macam. Laba menurut pajak, menurut ekonomi, menurut petani, menurut manajemen, menurut pemilik dan sebagainya. Bahkan akuntansi sendiri konsep laba itu bervariasi. Ada konsep laba menurut Historical Cost Accounting, seperti yang berlaku sekarang ini. Ada yang menurut Current Value Accounting, Net Realizable Accounting, Fair Value Accounting, dan lain-lain. Menurut akuntansi, laba berasal dari kelebihan antara penghasilan dan biaya. Penghasilan adalah kenaikan aktiva atau penurunan aktiva atau penurunan kewajiban akibat penjualan barang atau jasa perusahaan. Sementara itu, biaya adalah penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban akibat aktivitas produksi (pembelian, penjualan barang atau jasa perusahaan). Laba rugi adalah penghasilan dikurangi biaya, dimana definisi penghasilan dan biaya diatur oleh standar akuntansi.

Dari definisi ini, akuntansi mengangap bahwa agio sebagai unsur harga saham bukan laba. Itu hanya penerimaan kas, tidak setiap penerimaan kas menjadi laba, kendati untuk mengakui laba harus ada penerimaan kas.

Untuk menghitung laba masing-masing, orang dapat menentukan rumus perhitungan laba tersendiri. Petani misalnya, jika ditanya berapa laba (hasil/pendapatannya) tahun ini mungkin ia jawab sejumlah panen yang diterimanya tanpa menghitung biaya-biaya yang sudah dikeluarkannya, baik melalui pengeluaran kas maupun tenaga kerja yang digunakannya sendiri. Demikian juga “pedagang” yang berjualan di pasar tradisional, jika ditanya berapa labanya hari ini, mungkin ia akan menjawab sebesar uang yang diterimanya hari ini dikurangi uang yang ia bawa tadi pagi. Dan banyak lagi contoh yang cara perhitungan labanya berbeda.

Kenapa perlu diketahui jumlah laba ini? Laba ini merupakan informasi penting dalam suatu laporan keuangan. Angka ini penting untuk:

  1. Perhitungan pajak, berfungsi sebagai dasar pengenaan pajak yang akan diterima negara;
  2. Menghitung dividen yang akan dibagikan kepada pemilik dan yang akan ditahan dalam perusahaan;
  3. Menjadi pedoman dalam menentukan kebijaksanaan investasi dan pengambilan keputusan;
  4. Menjadi dasar dalam peramalan laba maupun kejadian ekonomi perusahaan lainnya dimasa yang akan datang;
  5. Menjadi dasar dalam perhitungan dan penilaian efisiensi;
  6. Menilai prestasi atau kinerja perusahaan/segmen perusahaan/divisi;
  7. Perhitungan zakat sebagai kewajiban manusia sebagai hamba kepada Tuhannya melalui pembayaran zakat kepada masyarakat.

(Disalin dari Buku Teori Akuntansi edisi revisi 2011 Bab 11 : Konsep Laba, karya Sofyan Syafri Harahap)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s