Dimanakah Letak Ketidakadilan Bunga (riba) ?

ekonomi2Dalam kegiatan Ekonomi, Islam melarang yang namanya bunga. Mengapa? Ada yang mengatakan bahwa praktik bunga itu merugikan dan tidak adil, benarkah? Bila Benar, dimana letak ketidakadilan tersebut? Oke, kita akan coba bahas bersama, benarkah riba itu penuh dengan ketidakadilan lalu dimana letak ketidakadilan tersebut.

Di  dalam  inti  ajaran  agama  Islam  konsep  nilai  keadilan  merupakan  inti  semua  ajaran  yang  diwajibkan untuk  dilaksanakan  pada  setiap  kegiatan.  Adil  kepada setiap  orang  dan  juga  adil  untuk  diri  sendiri  merupakan cerminan  Islam  dalam  mengajarkan  umatnya.  Al-Qur’an  sendiri  secara  tegas  menyatakan  bahwa  maksud diwahyukannya adalah untuk membangun  keadilan  dan persamaan (al-Qur’an 57:25 dan 7:29). Adil menurut Islam adalah tidak membahayakan bagi yang lain dan juga tidak membahayakan  bagi  dirinya  sendiri  (Laa dharara wa laa dhiraar) atau tidak melakukan tindakan yang mendzalimi dirinya sendiri ataupun orang lain (laa tadzlimuuna wa laa tudzlamuun).

Adil  berarti  juga  dapat  menempatkan  sesuatu  pada  yang haq. Tidak dapat dibenarkan bagi seseorang melakukan tindakan yang bukan kewenangan dirinya, atau mengambil sesuatu  tanpa  adanya  perbuatan  yang  dibenarkan.  Di dalam  unsur  keadilan  sering  kali  terjadi  karena  adanya unsur  eksploitasi  kepada  yang  lain,  melakukan  tindakan sewenang-wenang  tanpa  berpikir  tentang  akibat  yang akan  ditimbulkannya  dengan  mengenyampingkan  unsur moralitas.

Penerapan  bunga  pada  prinsip  ekonomi  kapitalis  lebih bersifat  individualistik,  yang  hanya  berpikir untuk kepentingan  pribadinya  tanpa  memperdulikan  keadaan lingkungan  sekitar.  Beban  bunga  pada  setiap  dana  yang dipinjamkan  kepada  yang  lain  akan  dapat  memberatkan dan  menyulitkan  ketika  batas  waktu  pengembalian  telah datang. Di samping harus mengembalikan nominal pokok dari  dana  yang  di  pinjam,  seseorang  harus  memberikan tambahan  lebihan  dari  dana  tersebut.  Tidak  dipedulikan apakah orang tersebut mampu membayar atau tidak. Dan jika saat batas waktu tidak dapat membayar maka beban bunga secara otomatis akan bertambah.

Secara  jelas  dapat  terlihat  bahwa  unsur  eksploitasi  yang terdapat  di  dalamnya  cukup  kuat,  dan  ada  salah  satu pihak yang terdzalimi, di mana seseorang yang meminjam dana  harus  terbebani  risiko.  Kalau  di  dalam  perbankan lazimnya  pemilik  harta  yang  yang  menitipkan  dan  atau menginvestasikan uangnya seharusnya menaggung risiko investasi bukan mendapat jaminan pengembalian seluruh pokok investasi. Tindakan  tidak  adil  dapat  kita  lihat  dalam  praktek perbankan selama ini, yaitu:

  1. Bunga  yang  dibayarkan  kepada  nasabah  pemilik dana bukan berdasarkan hasil usaha bank dan waktu pemakaian uang yang sebenarnya, apalagi berdasarkan hasil dan waktu pemakaian uang oleh nasabah pemakai dana. Timbul pula kondisi dzalim dari nasabah pemilik dana terhadap bank.
  2. Bila  bank  tidak  sanggup  membayar  sebagian  atau  seluruh  bunga  dan  pokok  uang  simpanan  nasabah pemilik dana dari pembayaran nasabah pemakai dana,  maka bank harus membayar dari modal dan harta lain milik  bank.  Bila  tak  sanggup  lagi,  maka  pemerintah mengambil  alih  kewajiban  bank  dan  selanjutnya  jadi beban  rakyat.  Timbul  kondisi  dzalim  dari  nasabah pemilik dana dan pemilik bank kepada pemerintah dan rakyat.
  3. Bila  nasabah  pemakai  dana  tak  sanggup  membayar sebagian  atau  seluruh  bunga  dan  pokok  uang  yang dipakai  maka  bank  mengambil  pembayaran  sisa kewajiban  nasabah  pemakai  dana  dari  pencapaian jaminan. Timbul moral hazard.
  4. Adanya  kegiatan  yang  menjadikan  uang  sebagai komoditi.  Padahal  uang  tidak  dapat  menghasilkan sesuatu  sampai  uang  itu  berganti  menjadi  harta  atau hak pengguna harta. Timbul moral hazard.
  5. Bunga  yang  harus  dibayarkan  oleh  nasabah  pemakai  dana ditentukan berdasarkan jumlah uang dan jangka waktu  hak  pemakaian  uang  bukan  berdasarkan  hasil pemakaian uang oleh nasabah pemakai dana maupun jenis transaksi yang dibiayai oleh bank. Timbul kondisi dzalim dari bank terhadap nasabah pemakai dana.
  6. Adanya  keberpihakan  sistem  kepada  orang  yang  memiliki  uang  untuk  memperoleh  hasil  tanpa  harus bekerja, terlepas apakah uang tersebut digunakan atau tidak untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah.

Bagaimana, sepakat kalau bunga itu tidak adil?

Sumber :

E-Book “Menjawab Keraguan Umat Islam Terhadap Bank Syariah” tahun 2007 yang di tulis oleh Ir. H. M. Nadratuzzaman Hosen, MS, M.Ec. Ph.D, AM Hasan Ali, MA dan Ach. Bakhrul Muchtasib, SEI, M.Si. Diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Syariah (pkes publishing)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s