Bagaimana Islam Melarang Riba?

ProteksiIslam melarang praktek riba terjadi secara bertahap yaitu dengan turunnya ayat tentang  pengharaman riba melalui empat tahapan. Di mana pada tahapan pertama turun pada periode Makkah, Allah SWT tidak menegaskan keharaman riba tetapi hanya memberikan isyarat bahwa riba di benci dan  tidak  ada  nilai  kebaikannya  di  sisi  Allah  SWT.  Hal  ini terkandung di dalam surat  ar-Rum (30) ayat 39.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum 39)

Sebagian besar sahabat dan ahli tafsir berpendapat bahwa riba  yang  di  maksud  di  sini  adalah  pemberian  bukan tambahan  (riba)  yang  diharamkan.  Berkata  Ibnu  Abbas, Ibnu  Jubair,  Thowus  dan  Mujahid  :  “Ayat  ini  turun  terkait dengan  hibatus  tsawab  (pemberian  yang  mengharapkan imbalan).

Menurut  Ibnu  Katsir  di  dalam  ayat  ini  dikatakan  sebagai riba yang mubah, riba yang dihalalkan oleh Allah. Karena kata riba di sini terdefinisi sebagai hadiah yang diberikan seseorang dengan mengharapkan imbalan yang lebih.

Tahapan kedua, turun pada periode madinah yang termaktub pada  surat  an-Nisa’  ayat  161,  yang telah  memberikan isyarat  akan  keharaman  riba  karena  adanya  madharat yang  terkandung  di  dalamnya,  ayat  ini  memberikan pembelajaran atas kejahatan yang ditimbulkan riba seperti yang telah berkembang pada masyarakat Yahudi.

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa’ 161)

Tahapan ketiga, pada tahapan ini Allah telah memberikan ketegasan atas haramnya riba, namun belum memberikan arti  haram  pada  keseluruhan  unsur  yang  terdapat  pada  riba. Bentuk riba yang diharamkan hanya pada unsur atau sifat  riba  yang  berlipat  ganda  ( adh’afan  mudho’afah). Penegasan yang diberikan ini terdapat pada nash al-Qur’an surat Ali Imran (3) ayat 130.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda* dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran 130)

* Yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi’ah. Menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi’ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda.

Tahapan keempat, secara jelas Allah telah mengharamkan riba  secara  keseluruhan  dari  semua  bentuk  tanpa  ada pengecualian,  dan  menutup  segala  kesangsian  dan keraguan atas pendapat tentang riba. Hal ini disampaikan melalui firman Allah SWT pada surat al-Baqarah (2) ayat  275-278.

275. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

276. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

277. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

278. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Meninggalkan  riba  adalah  suatu  kewajiban  bagi  setiap orang  yang  beriman,  tidak  dikatakan  beriman  jika seseorang  masih  melakukan  praktek  riba,  karena  antara riba  dan  iman  diisyaratkan  pada  ayat  terakhir  ini,  tidak pernah  menyatu  di  dalam  diri  seseorang.  Jika  seseorang melakukan  praktek  riba,  maka  itu  bermakna  ia  tidak percaya pada Allah dan janji-janji-Nya.

Sumber :

E-Book “Menjawab Keraguan Umat Islam Terhadap Bank Syariah” tahun 2007 yang di tulis oleh Ir. H. M. Nadratuzzaman Hosen, MS, M.Ec. Ph.D, AM Hasan Ali, MA dan Ach. Bakhrul Muchtasib, SEI, M.Si. Diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Syariah (pkes publishing)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s