Apa Persamaan Bunga dan Riba?

bunga-dan-riba-small_full

Pengharaman terhadap praktik riba dikalangan umat Islam sudah cukup jelas dan telah di sepakati bersama dikalangan para ulama. Namun yang menjadi permasalahan di kalangan ulama dan bahkan  menjadi  polemik  berkepanjangan  adalah  tentang penentuan  bunga bank, apakah ada kesamaan dengan riba? Apakah bunga bank termasuk di dalam unsur riba, atau bahkan praktik riba itu sendiri?

Tidak terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang haramnya riba, karena secara jelas di  dalam  al-Qur’an  tentang  bagaimana  riba  tidak boleh  dilakukan  dalam  interaksi  sosial  di  masyarakat. Riba  didalamnya  terdapat unsur  ketidakadilan  yang  akan ditimbulkannya, karena antara satu dengan yang lain akan saling mengeksploitasi dan berlaku dzalim. Pada  lembaga keuangan yang telah berkembang selama ini bunga dijadikan sebagai penopang hidup dan berkembangnya lembaga keuangan tersebut, oleh para kaum kapitalis di anggap sebagai penggerak ekonomi, tanpa bunga perekonomian dunia tidak akan pernah  berkembang. Para  ulama’  dan  cendekia  muslim berbeda  pendapat  dalam  memahami  dan  menentukan permasalahan ini, apakah bunga yang diberlakukan di dalam lembaga keuangan termasuk di dalam unsur riba, atau bahkan praktik riba itu sendiri? Untuk itu kita akan melihat apa persamaan antara bunga dan riba.

Di  dalam  istilah  bahasa,  Bunga  (interest)  adalah  uang yang  digunakan  atau  di  bayar  atas  penggunaan  uang. Atau pekerjaan meminjamkan uang dengan mengenakan tambahan nominal pada uang tersebut. Konsep  bunga  ( interest)  mulai  dikenal  sejak  zaman pertengahan  Latin  yang  disebut  dengan  istilah  interesse yang  berarti  pampasan  karena  kerugian  atau  bayaran pampasan.  Dalam  undang-undang    Romawi,  interest atau  dalam  bahasa  Latin  disebut  id quod interest   berarti potongan  yang  diberikan  akibat  kerusakan  atau  kerugian yang  ditanggung  si  pemberi  hutang  akibat  kegagalan peminjam untuk mengembalikan pinjaman pada saat yang ditentukan.

Menurut  istilah  lain  bunga  adalah  pembayaran  keatas modal  yang  dipinjam  dari  pihak  lain.  Bunga  dapat  juga diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh lembaga keuangan yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah  yang  membeli  atau  menjual  produknya.  Bunga dapat  juga  diartikan  sebagai  harga  yang  harus  dibayar kepada  nasabah  (yang  memiliki  simpanan)  dengan  yang harus  dibayar  oleh  nasabah  kepada  bank  (nasabah  yang memperoleh pinjaman).

Dalam  istilah  lain  bunga  memiliki  arti  sebagai  harga atau  kompensasi  atau  ganti  rugi  yang  dibayarkan  untuk penggunaan  uang  selama  suatu  jangka  waktu.  Ini dinyatakan dalam suatu prosentasi dari jumlah uang yang dipinjamkan atau dipakai selama suatu jangka waktu. Hal  ini  sama  persis  artian  bunga  dengan  riba  yang  telah dikenal  di  dalam  agama  Islam.  Riba  yang  berasal  dari bahasa arab secara etimologi diartikan sebagai tambahan, meningkat  atau  membesar.  Sedangkan  menurut  istilah teknis,  riba  berarti  pengambilan  tambahan  dari  harta pokok atau modal secara bathil, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam yang bertentangan dengan kaidah syar’i.

Secara  istilah  Imam  Sarakhsi  menjelaskan  riba  sebagai bentuk tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa  adanya  padanan  (iwadh)  yang  dibenarkan  syari’ah atas penambahan tersebut. Sedang menurut Badr ad-Dien al-Ayni  prinsip  utama  riba  adalah  penambahan.  Menurut syari’ah riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.

Unsur  kesamaan  yang  dimiliki  antara  bunga,  yang dijalankan di dalam perkembangan ekonomi kapitalis dan dianut  oleh  lapisan  masyarakat  dunia,  dengan  riba  yang telah  berkembang  dan  diwariskan  oleh  masa  jahiliyah, memberikan  akibat  hukum  pelarangan  terhadap  bunga tersebut. Oleh karena, riba secara qoth’i telah di nash di dalam al-Qur’an, haram hukumnya. Pengharaman terhadap bunga  karena  adanya  kesamaan  illat  dengan  riba,  yaitu adanya tambahan.

Perkembangan ekonomi kapitalis, perumus konsep bunga, yang  telah  mengakar  dan  serta  telah  merasuk  di  dalam sendi-sendi  sistem  berekonomi  masyarakat  dunia,  telah memasung  alam  pikir  seseorang,  sehingga  menganggap praktek pembungaan pada setiap pinjaman atau transaksi hutang piutang adalah suatu hal yang wajar dan selayaknya untuk  dilakukan.  Rasionalisasi  pola  pikir  yang  dibangun oleh mereka telah mengenyampingkan nilai keadilan yang seharusnya  sebagai  prinsip  dasar  di  dalam  melakukan kegiatan  ekonomi.  Sehingga  tidak  menimbulkan  salah satu diantaranya teraniaya.

Rumitnya persoalan mengenai bunga, yang tentunya tidak mudah terpahami oleh orang awam, maka sangat berdasar ketika bunga tersebut harus diberikan legalitas fatwa oleh MUI,  yang  telah  dikeluarkan  pada  tanggal  16  Desember 2003, menetapkan bahwa praktek pembungaan uang telah dianggap memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW, yakni riba nasi’ah. Dengan mendefinisikan bunga  (interest)  adalah  tambahan  yang  dikenakan  untuk transaksi  pinjaman  uang  yang  diperhitungkan  dari  pokok pinjaman  tanpa  mempertimbangkan  pemanfaatan/hasil  pokok  tersebut,  berdasarkan  tempo  waktu,  dan diperhitungkan  secara  pasti  dimuka  berdasarkan persentase.Istilah tersebut disamakan dengan istilah riba yang berarti tambahan tanpa imbalan yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang dijanjikan sebelumnya.

Sumber :

E-Book “Menjawab Keraguan Umat Islam Terhadap Bank Syariah” tahun 2007 yang di tulis oleh Ir. H. M. Nadratuzzaman Hosen, MS, M.Ec. Ph.D, AM Hasan Ali, MA dan Ach. Bakhrul Muchtasib, SEI, M.Si. Diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Syariah (pkes publishing)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s